Teknopreneur.com – “Animasi sendiri industrinya belum tumbuh masih suram. Belum bisa masuk  industri pertelevisian meskipun tembus harganya mengerikan. Biasanya harga yang pertelevisian Indonesia berikan terjun bebas dari modal awal hal itulah yang membuat banyak para animator segan untuk memulai.  Memang diakui animasi di Indonesia memang jauh dari negeri luar. Namun harus ada solusi harus harus ada suatu rumah untuk mereka berkerja sama banyak mereka melakukan riset di lab-lab kampus. Sehingga dibuatlah pusat kreatif sebagai rumah,sebagai wadah atau inkubator. Sehingga para animator kita bisa berkreasi dan dihargai.

Sebenarnya industri kreatif itu tak mesti banyak modal atau sumberdaya namun yang dibutuhkan adalah kreatifitas dari brainware. Mengapa inkubator itu penting?dari bisnis IT ada beberapa fase, yang berasal dari ide yang berasal dari kampus,lab atau galaksi. Bagaimana cara menilai suatu ide, ini sangat sulit karena ini tak nyata. Butuh adanya inkubator untuk meningkatkan animasi Indonesia.

Disini harus ada peran pemerintah untuk membangun infrastruktu,regulasi banyaknya event harus dilaksanakan. Sehingga  kita ini tak hanya menjadi pasar konten konten luar negeri. Padahal dilihat dari talent-talent  animator tidaklah  rendah. Pemerintah harus melihatnya, dan harus menjadi regulasi dan pelindung dari suatu start up.

Jaringan internet kini sudah luas, hampir semua penduduk bahkan di desa sekalipun mempunyai FB, jadi bisa dilihat bahwa pasar indonesia ini sangat potensial. Namun sayangnya Indonesia masih sulit menghargai produk sendiri. Sangat jauh berbeda dari luar negeri. Dan yang dilupakan di Indonesia, teknologi itu hanya dijadikan sebagai alat padahal teknologi animasi membutuhkan cerita juga itu yang menjadi mentahnya animasi di Indonesia.