Teknopreneur.com – Amat disayangkan sekali Indonesia itu makan merek. Ada buah jeruk produksi Madura lalu dijual dengan plang nama Jeruk Madura lama sekali lakunya. Namun begitu diganti dengan jeruk Australia, langsung laris manis. Bingung apa yang dipikiran Indonesia, apa menariknya sih merek luar negeri, toh asalnya juga dari negeri sendiri.

Itulah yang ada di mindset masyarakat Indonesia, yang namanya buatan luar negeri itu pasti enak dan kualitasnya tingkat. Itu penilaian mereka bukan hanya pada buah jeruk namun juga pada inovasi-inovasi yang ada di Indonesia. Inovasi di Indonesia itu jumlahnya tidak sedikit namun tidak banyak yang dilirik. Sehingga banyak yang disimpan di laci.

Mereka lebih bangga jika produk yang digunakan dari luar negeri. Padahal orang luar negeri sendiri tertarik dengan inovasi-inovasi yang ada di dalam negeri. Lihat saja tak sedikit peneliti asal Indonesia yang tak mau kembali ke kampung sendiri untuk mengabdi. Bukan berarti mereka tak memiliki militansi namun bagi peneliti itu penghargaan adalah kebanggan.

Prof Habibi pun pernah mengamininya, menurutnya merek-merek asing itu lebih menjual di pasar Indonesia. Nama bule itu lebih populer dibandingkan dengan nama lokal. Jadi tak bisa disalahkan jika merek luar negeri negeri lebih bersinar dibandingkan produk dalam.

Executive Director at The Habibie Center, Rahimah Abdul Rahim mengatakan hal lain yang menghambat majunya inovasi  di Indonesia adalah kurangnya apreciate dari pemerintah. Ada yang mengeluhkan kepada saya bahwa penelitiannya mendapatkan akreditasi dari Eropa,Australia namun di Indonesia penelitiannya tak mendapatkan apresiasi.

Salah satunya Irwandi Jaswir salah satu penerima Habibi Award 2013, menurutnya amat sulit mendapatkan apreciate dari Indonesia. Kebahagian seorang peneliti itu bukanlah saat ia diberikan uang atau award melainkan apreciate. Ada kebanggan tersendiri, membuat semangat.

Selain itu jika meneliti di negara luar tak perlu berpikir masalah dana atau fasilitas pasti sudah dijamin. Saat ia melakukan penelitian di Jepang sangat baik apreciatenya, kami belum melakukan penelitian baru konsep saja mereka sudah memberikan perhatian yang berlebih. Bukan hanya uang atau fasilitas namun motivasi. Merasa di hargai negeri orang. Begitu juga dengan Malaysia sudah bertahun tahun disana dan kini menjadi dosen dan peneliti terbaik di International Islamic University Malaysia dan ia pun didaulat untuk mengembangkan program bioteknologi disana.

Kini bukan tak ingin ia kembali ke tanah kelahirannya namun karena terikat komitmen dengan Institut di Malaysia ia masih belum mau kembali. Tawaran di Suriah menjadi peneliti tetap pun belum ia terima.