Peneliti yang mendapatkan Habibi Award bukanlah peneliti sembarangan. Ia adalah orang terpilijh. Begitu juga dengan Prof Irwandi Jaswir, 32 penelitian bergengsi telah ia geluti. Ia pun dua kali mendapatkan Resourcing Research Award. 63 karya ilmiahnya pun telah ia publikasikan lewat jurnal internasional.

Sebelum mendapatkan penghargaan Habibi Award, pria kelahiran Medan ini pernah terpilih sebagai Research Fellow japan Society for the Promotion of Sciencis (JSPS) Fellowship award di National Food Research Institute (NFRI),Jepang pada april 2006 dan anugerah Pasific Young Scientist Award 2010 di Bangkok atas jumlah publikasi internasional dengan H-Index adalah 11 dan 320 citation. Karena penelitiannya itu pun ia meraih medali emas di Kompetesi Rekacipta dan Inovasi paling bergengsi di dunia yakni the 34th International Exhibition of Inventions,New Techniques and product of geneva di Swiss tahun 2006.

Menurutnyanya Indonesia itu amat kaya dan pintar tak mesti menggunakan produk luar untuk mengobati berbagai penyakit ganas. Karena orang Indonesia sendiri bisa menciptakannya. Dirinya memang sempat kecewa dengan pemerintah Indonesia yang tak dihargai penelitiannya padahal di negeri orang ia amat dihargai. Namun semua itu tak lagi, Anugerah Habibi Award 2013 kategori Ilmu Kedokteran dan Bioteknolgi lah yang membuktinya. Bukti bahwa Indonesia memang menghargai para penelitiannya.

Misalnya saja analisis komponen non halal dalam pangan. Ia menerima penghargaan internasional atas penelitiannya di bidang analisis cepat lemak babi dalam bahan pangan. Hasil penelitiannya yang menggunakan metode FTIR (Rafid Methode for Detection of Non Halal and Product)  ini bisa mendeteksi lemak babi dalam bahan pangan dalam waktu kurang dari satu menit. Kini penelitiannya sangat berarti bagi masayarakat muslim dunia dan pelaku bisnis makanan halal di dunia.