Teknopreneur.com. Dengan bantuan dana dari Jerman, Republik Dominika berharap mampu mengurangi emisi berbahaya hingga 25% dengan target tercapai pada tahun 2030. “Kami adalah salah satu dari sedikit negara di Karibia dan Amerika Latin yang memiliki strategi nasional. Kami ingin memperbaiki neraca emisi CO2 setiap kurun lima tahun. Targetnya: hingga tahun 2030 mengurangi emisi gas berbahaya sekitar 25 persen.”

Mungkin sulit bagi Dominika untuk mengandalkan sumber energi terbarukan lain bagi industrinya, karena memang minimnya sumber juga menjadi alasan. Namun mereka pandai memanfaatkan keadaan. Mengingat kondisi jalanan di Dominika mayoritas dalam keadaan buruk, maka tak aneh jika banyak pengendara memiliki persoalan dengan ban.

Biasanya masyarakat lebih memilih untuk mereparasi ban pada mereka yang ahli mengerjakannya—dan biasanya banyak terdapat di pinggir jala—ketimbang membeli yang baru. Namun jika sudah tak mungkin lagi direparasi, maka terpaksa ban-ban tersebut diganti dan yang rusak dibuang begitu saja.

Nah ban-ban inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pabrik semen Cemex yang membelinya dari para pengum[pul dengan harga sekitar Rp1500 untuk dijadikan sebagai bahan bakar. Hal ini bisa terjadi karena ban memang memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Seperti yang dikutip dari www.dw.de, Miguel Andrés Rivas Khoury, pekerja Cemex Republik Dominika mengatakan:”Ban bekas adalah limbah. Jika tidak dimanfaatkan, bisa menimbulkan penyakit dan membutuhkan sekitar 1.000 tahun untuk bisa terurai. Setiap kali menggunakan bahan bakar ban, kami mengurangi konsumsi bahan bakar utama, yang berarti mengurangi emisi CO2 dan lebih ramah lingkungan.“

Sekitar 80 ban per jam dimasukkan ke sebuah tungku tertutup, yang hanya melepaskan sedikit polutan. Namun bagi neraca karbon perusahaan, tidak terlalu banyak perubahan. Karena sumber utama energi tetap batubara. Meski menggunakan ban bekas, pabrik semen ini masih menjadi produsen CO2 terbesar di negara itu.