Teknopreneur.com – Harus diakui, sumber energi dari tanaman pangan, memiliki harga yang mahal. Belum perbenturan dengan kepentingan pangan. Namun, kendati mahal, tampaknya pemerintah tetap akan mengoptimalkan sumber energi nabati karena dianggap lebih menguntungkan. Bukan hanya memberikan energi bagi masyarakat, BBN juga lebih ramah lingkungan, juga turut menggerakkan perekonomian nasional.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, jika dibandingkan dengan sumber energi fosil, sumber energi dari tanaman pangan memiliki multiplier effect yang lebih luas. Selain ramah lingkungan karena kandungan karbonnya yang kecil, BBN juga dapat turut meningkatkan kesejahteraan petani kecil.

“Itu kan lapangan kerja. Yang nanam petani dan yang kurang mampu. Propoor-nya dapat, turut mengentaskan rakyat dari kemiskinan,” ujar Jero seusai membuka siding DEN ke-11 di Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Jumat (8/10). Dijelaskan Jero, upaya pengembangan BBN sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006. Produk-produk BBN dimandatkan untuk memenuhi 10% kebutuhan energi nasional untuk konsumsi.

Sementara Menteri Pertanian Suswono mengingatkan pentingnya solusi terkait insentif dan persoalan keterbatasan lahan agar pemanfaatan biofuel tidak mengganggu lahan pangan pokok.

“Jangan sampai biofuel membuat para petani mengkonversi lahan tanaman pokok ke tanaman untuk bahan bakar nabati. Ini yang kami harapkan jangan sampai terjadi,” kata Suswono.

“Ke depan akan ada pemetaan lahan. Ada semacam kepastian lahan tanaman pokok dengan Undang-Undang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Jadi kami harapkan undang-undang ini betul-betul dijalankan Bupati Walikota dengan keluarnya Perda penetapan lahan pangan berkelanjutan,” ujarnya.