Ostrinia furnacalis atau hama penggerek batang jagung. Serangannya perlu diwaspadai karena tak hanya menggerek batang jagung namun ia bisa mengakibatkan menurunnya produktivitas dari jagung.  Menurut website penelitian dan pengembangan departemen pertanian serangan pada serangga ini bisa merusak semua bagian pada tanaman jagung mulai dari lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, dan rusaknya tongkol jagung.

Saat berumur dua minggu,imagonya mulai meletakkan telur pada tanaman yang berumur dua minggu. Pada saat pembentukan stadia pembentukan bunga jantan sampai keluarnya bunga jantan saat itulah jumlah telur yang diletakan sedang banyak-banyaknya. Jumlahnya bisa mencapai 30 hingga 90 butir. Namun kerusakan terjadi tetap pada fase reproduksi.Menurut data base jurnal Indonesia, penggerek batang ini keberadaanya perlu diwaspadai karena kehilangannya bisa mencapai 80%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi larva

O. furnacalis serta umur tanaman saat terserang. Telur O. furnacalis diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah daun, bentuknya menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda. Periode telur berlangsung 3-4 hari. Larva terdiri atas lima instar, setiap instar lamanya 3-7 hari. Stadium pupa berlangsung 7-9 hari. Lama hidup ngengat adalah 2-7 hari sehingga siklus hidup dari telur hingga ngengat adalah 27-46 hari dengan rata-rata 37,50 hari.

Untuk mengatasi hal tersebut Institut Pertanian Bogor yang digawangi oleh Ketua Pusat Studi Sumberdaya dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Sony Suharsono melakukan rekayasa genetika pada jagung. Mereka menyisipkan bakteri Bacillus turensis. Hasilnya tanaman jagung tahan terhadap serangan hama Ostrinia furnacalis. Dan ini tidak berbahaya sama dengan tanaman jagung biasa bedanya hanya tahan terhadap serangan tertentu. Tanaman jagung transgenik ini juga tetap akan bisa terserang oleh hama belalang. Jadi tak ada yang bahaya, belalang pun masih mau makan tongkol jagungnya. Berarti tak ada racun.