Teknopreneur.com-Virus seolah menjadi momok bagi tanaman kentang.  Umbi kentang yang busuk namun tidak dipisahkan dari umbi yang sehat maka berakibat fatal bisa membuat busuk kentang satu pabrik penyimpanan sehingga bisa menurunkan produktivitas makanan pokok dunia ini. Virus yang menyerang kentang biasanya Potato Leaf Roll Virus (PLRV), Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaic laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaic atau nekrosis lokal.

Maka itu IPB mengoleksi 300 bibit kentang bebas virus di Laboraturium Kultur Jaringannya.  Bibit yang menjadi koleksinya berasal dari berbagai benua, diantaranya Eropa,Amerika dan Asia. Diantaranya bernama Red pontiac,Atlantic,Granola dan Russet burbenk.  Ukurannya dari umbi mikro hingga umbi jumbo. Ukuran umbi yang diproduksi hanya sebesar biji kedelai sedangkan umbi jumbo bisa sebesar  botol aqua 600 ml.

IPB tak hanya mengoleksinya namun juga memproduksinya. Beberapa perusahaan swasta pun telah memesan bibit yang mereka koleksi.  Dulu sebelum pensiun, dosen yang memproduksi kentang ini adalah Prof Dr G A Wattimena ia telah mengembangkan sejak tahun 90an, namun sejak ia pensiun yang meneruskannya ada Prof. Dr. Sony Suharsono Ketua Pusat Studi Sumberdaya dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kini beberapa koleksinya telah diproduksi secara massal untuk french fries berkerjasama dengan perusahan swasta. Kentang kentang ini budidayakan dengan kultur jaringan yaitu dengan  mengisolasi, menumbuhkan, memperbanyak dan meregenerasikan protoplas (bagian hidup dari sel), atau bagian tanaman seperti meristem, tunas, daun muda, batang muda, ujung akar, kepala sari, dan bakal buah dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.