Teknopreneur.com –  Perusahaan yang didirikan pada tanggal 21 Maret 2006 oleh Jack Dorsey, Evan Williams, Noah Glass dan Biz Stone ini merugi US$69 juta pada enam bulan pertamanya di tahun 2013. Namun, paska memutuskan untuk IPO, Twitter menaikkan harga lembar sahamnya hingga US$25 per lembar lantaran antusiame permintaan untuk sahamnya begitu tinggi. Apa rahasianya?

Rupanya, Twitter belajar dari Facebook di tahun 2012 lalu yang sahamnya sempat terjun bebas karena tingginya permintaan dan adanya persoalan teknis di Nasdaq yang berujung kekecewaan calon investor. Pada umumnya, perusahaan teknologi menjual saham mereka di Nasdaq, tetapi Twitter memilih menjual di NYSE (New York Stock Exchange). Sebagian analisis memperkirakan bahwa dengan mengambil strategi ini, Twitter akan mampu mempertahankan harga sahamnya, bahkan cenderung terus naik dalam beberapa hari ke depan.

Twitter tahun ini membukukan pendapatan sekitar US$254 juta. Namun demikian, perusahaan yang saat ini memiliki 218 juta pengguna bulanan dan lebih dari 100 juta pengguna aktif harian ini ternyata belum pernah menghasilkan keuntungan. Menghadapi persoalan tersebut, akhirnya Twitter merencanakan menjual 70 juta lembar saham yang diperkirakan akan meningkatkan nilai hingga US$2 miliar, yang resmi dibuka mulai hari ini (06/11).

Meski mengalami kerugian, pendapatanTwitter terus meningkat dari US$28 juta dollar pada 2010 menjadi US$317 juta di akhir 2012. Pendapatan Twitter ini sebagian besar besar dari iklan yang mencapai 85 %. Sampai saat ini, debut nilai penawaran Twitter merupakan yang terbesar kedua di Silicon Valley setelah Facebook.

Nilai pertumbuhan yang pesat ini menurut Peter Esho dari Invast Financial Services, yang berbasis di Sydney lantaran Twitter terus fokus kepada kebutuhan penggunanya yang praktis.

“Saya pikir keberhasilan Twitter adalah menjadikan layanan mereka mudah digunakan, tidak membutuhkan banyak bandwidth bagi pengguna di tempat-tempat dengan penetrasi broadband rendah,” kata Esho.