Teknopreneur.com – “Pinjam Uang, Nyicil Sampah“,“Beli Sembako, Bayar Sampah”.Itulah moto Bank Sampah Malang(BSM).  Berangkat dari keprihatinan akan menumpuknya sampah di Kota Malang membuat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang Drs. Wasto mendirikan Bank Sampah di Kota penghasil apel itu.  Menurutnya semenjak ada bank sampah masyarakat tak hanya semakin peduli dengan kebersihan tapi juga semakin sejahtera. Bagaimana tidak jika mereka bisa dengan mudah membeli sembako, pulsa, bayar listrik hingga pinjam uang hanya dengan menyetor sampah di bank sampah.

Caranya mereka bisa membentuk kelompok atau per individu untuk menjadi nasabah di BSM. Mereka bisa menyetor berapa pun berat sampahnya. Jika berat sampahnya telah mencapai 50 kg atau seharga 100-200 ribu rupiah maka mereka boleh mengambilnya. Atau ditukar dalam bentuk barang yang mereka butuhkan. Karena di BSM juga disediakan tempat penjualan kebutuhan sehari-hari.

Para nasabah pun bisa dengan mudah membayar listrik lewat bank sampah karena telah berkerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara.  Sehingga jika ada yang akan bayar listrik bisa menukarnya dengan sampah asalkan sampah yang ditukarkan seharga dengan pembayaran listriknya. Namun jika tidak cukup masih bisa dengan sampah, sisanya ditambahkan dengan uang.

Jika ingin pinjam uang pun boleh dibayar dengan sampah. Bahkan pengembaliannya bisa dicicil hingga sepuluh kali dan tanpa bunga. “Karena di Unit tabungan bank sampah uangnya mengendap jadi sayang jika tak digunakan sehingga boleh dipinjam oleh nasabah yang membutuhkan,”ujar Wasto.

Sampah-sampah yang telah disetor oleh nasabah ada yang langsung diolah ada juga yang dibeli oleh pengumpul. Bahkan permintaan akan sampah di malang lebih tinggi dibandingkan dengan yang disetor oleh nasabah.

Dari Tabungan Lebaran Hingga Tabungan Pensiun

Menurut Rahmat Hidayat, Direktur BSM menabung di bank sampah  sama seperti menabung di bank, para nasabah juga akan diberikan buku tabungan. Yang berbeda hanya yang disetor, jika di bank sampah yang disetor adalah sampah.  Setiap  sampah yang disetor akan berganti menjadi uang, harganya tergantung dari jenis sampahnya.

Ada 70 jenis harga sampah, yang termahal adalah sampah botol mineral dihargai Rp 4000/kg dan yang termurah adalah sampah yang belum dipilah-pilah tapi langsung disetorkan ke teller bank. Nasabah bisa menyetor sampah dan uangnya baru diambil mendekati lebaran. Kini mendekati hari lebaran BSM bisa mengeluarkan uang sekitar 20-30 juta perharinya.

Kini saya sedang ada terobosan untuk pengelolaan bank sampah  yaitu program pensiunan untuk para nasabah sampah. Ini program yang berkerjasama dengan BNI denga syarat minimal sampah seharga Rp 50.000/bulan bisa nasabah setorkan.

Sampah organik lebih banyak di malang di bandingkan dengan sampah anorganik. Sampah organik tersebut akan diolah menjadi kompos, biogas dan pakan cacing.  Sampah organik mengandung banyak cacing, di malang ada beberapa daerah yang curam dekat sekali dengan kali. Sehingga ada kebiasaan masyarakat untuk membuang sampahnya di kali. Sebenarnya itu wajar karena mereka bingung buang sampah dimana. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat pengomposan sampah organik untuk dibudidayakan cacingnya kemudian dijual.Biasanya dipesan untuk obat atau kosmetik.