Teknopreneur.com – Benih kedelai di Indonesia dinilai berkualitas rendah makanya para pengrajin tempe lebih memilih membeli kedelai impor karena benihnya berukuran besar dan rasanya lebih enak. Tapi bukan berarti kedelai di negara kita semua kualitasnya rendah, misalnya saja benih grobogan.  Kedelai varietas lokal Grobogan mempunyai benih yang berumur pendek, berpolong besar dan tidak mudah pecah serta memiliki tingkat kematangan polong dan daun yang bersamaan. Kedelai ini mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

Menurut Budi Farming  Mixed dalam websitenya menulis bahwa  membudidayakan kedelai grobogan sebaiknya pada tanah dalam keadaan basah, minimal 5 cm dari permukaan tanah masih basah, dan tidak terlalu basah (tanah menggumpal tidak remah) atau dalam keadaan tergenang. Bila tanah ditumbuhi banyak gulma, tanah dapat disemprot dulu dengan Roundup sesuai dengan dosis pada label, namun perlu diingat, tanah baru dapat ditanam  dua minggu setelah penyemprotan. Untuk tanah bekas sawah, tanah tidak perlu diolah lagi. Bila bukan bekas sawah, pengolahan tanah minimum dilakukan dengan menggunakan bajak atau cangkul sebanyak satu kali kemudian diratakan.

Buat “galengan” atau “bedengan” selebar 2 – 3 meter, dengan jarak antar “galeng” atau “bedeng” selebar 20 cm sebagai drainase atau selokan dalam menghadapi musim kemarau atau 30 cm bila menghadapi musim hujan. Tanah dalam keadaan basah minimal 5 cm dari permukaan tanah masih basah, dan tidak terlalu basah (tanah menggumpal tidak remah) atau dalam keadaan tergenang. Bila tanah ditumbuhi banyak gulma, tanah dapat disemprot dulu dengan roundup  sesuai dengan dosis pada label, namun perlu diingat, tanah baru dapat ditanamai 2 minggu setelah penyemprotan.

Bila tanah bekas sawah, tanah tidak perlu diolah lagi. Bila bukan bekas sawah, pengolahan tanah minimum dilakukan dengan menggunakan bajak atau cangkul sebanyak satu kali kemudian diratakan. Buat “galengan” atau “bedengan” selebar 2 – 3 meter, dengan jarak antar “galeng” atau “bedeng” selebar 20 cm sebagai drainase atau selokan dalam menghadapi musim kemarau atau 30 cm bila menghadapi musim hujan. Buat lubang sedalam 5 cm dengan jarak antar lubang 20 cm x 20 cm. Untuk mempermudah penentuan kedalaman lubang, alat penugal atau pelubang diberi batas kain.

Selanjutnya ditanami dengan 2 biji tiap tugalan  (lubang tanam), tutupi lubang dengan tanah di sekitar lubang dengan menggunakan sapu lidi. Jangan di mampatkan atau dipadatkan. Menghadapi musim kemarau, tanah hanya menutupi benih saja, bila menghadapi musim hujan, tanah menutupi hingga pinggiran lubang tanam. Untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai sama sekali atau lebih dari satu tahun tidak pernah ditanami kedelai atau pernah melewati musim kemarau yang panjang, benih harus ditambah dengan starter bintil akar (Rhizobium), pada waktu penanaman. Starter dapat disiapkan dengan jalan:

2 kg tanah bekas kedelai dicampur dengan air secukupnya sampai menjadi lumpur. Tambahkan 10 kg BMF Media Inokulum. Diaduk sampai rata, ayak, masukkan ke dalam plastik warna hitam, lalu diperam atau didiamkan sampai dua hari di tempat teduh yang jauh dari sumber panas termasuk sinar matahari. Setelah pemeraman, starter Rhizobium dapat langsung dipakai, atau disimpan. Daya simpan dapat mencapai 14 hari, akan lebih lama bila disimpan dalam lemari pendingin (jangan dibekukan). Jangan terkena sinar matahari atau sumber panas lain selama penyimpanan atau transportasi.  50 gram starter Rhizobium untuk lokasi yang selalu ditanami kedelai dan 100 gram untuk lokasi yang lebih dari satu tahun tidak ditanami kedelai atau tidak pernah sama sekali ditanami kedelai, diaduk rata dengan 10 kg benih yang sebelumnya telah dibasahi air. Segera tanam setelah siap. Dengan membuat sendiri, kita dapat memastikan bahwa starter yang kita aplikasikan masih dalam keadaan hidup dan aktif. Starter juga akan memiliki kemampuan adaptasi dan tumbuh yang baik, sebab selalu disiapkan dalam keadaan segar, tidak dalam keadaan dorman.