Teknopreneur.com-Eichhornia crassipes atau lebih dikenal dengan eceng gondok, keberadaannya sering dinilai sebelah mata. Jika jumlahnya terlalu banyak berakibat menurunnya intensitas matahari sehinggi jumlah oksigen yang masuk ke dalam air menjadi berkurang. Tanaman yang bernafas dengan rongga udara ini juga mengakibatkan meningkatnya evapotransportasi yaitu pengupan dan kehilangan air melalui daun karena ukuran daung eceng gondok yang lebar. Tanaman mengapung ini juga bisa mempercepat proses pendangkalan pada perairan karena saat tanaman ini mati akan turun ke dasar laut sehingga bisa menghambat transportasi air.

Meski banyak dampak negatifnya ternyata tanaman berbunga majemuk ini ternyata sangat bermanfaat bagi transportasi udara yakni pesawat terbang. Kandungan lignin yang eceng gondok yang tinggi ternyata bermanfaat sebagai bahan baku carbon fiber pada pesawat terbang.  Dikutip dari portal berita riset dan teknologi Republik Indonesia, secara fisik secara fisik serat karbon fiber kalau sudah disusun berbentuk kain kasa berwarna hitam yang digunakan untuk kabin pesawat, komposit kerangka pesawat terbang dan beberapa struktur rangka. 

Cara membuatnya mengumpulkan, mengeringkan, dan memotong kecil  eceng gondok dengan menggunakan api untuk  diambil ligninnya. Setelah itu lipnim dibuat dipintal menajdi serat-serat. Lalu dipanaskan antara suhu 25-150 derajat untuk menguatkan air. Lalu dipanaskan lagi secara bertahap pada suhu 150-240 derajat untuk memperkuat struktur, terakhir dipanaskan lagi sampai dengan 240-400 derajat, lalu 400-700 derajat. Tahap pemanasan ini sangat penting untuk menghasilkan kekuatan karbon. Terakhir menggunakan suhu 700-1200 derajat supaya didapatkan grafik karbon yang keluarannya seperti benang. 

Kelebihan serat karbon yang ditemukan oleh Margareth Shanty,Bely Agustini, Chinttya Efendi dan Suryadi Ismadji ini adalah harganya yang ekonomis,bisa didapatkan dimana saja dan ramah lingkungan. Namun kekuataanya lebih rendah dibandingkan dengan serat karbon yang berasal dari bahan lainnya.