Teknopreneur.com -Permintaan Afrika ke internet ke seluruh dunia diproyeksi tumbuh rata-rata 51 persen setiap tahunnya hingga 2019, melampaui benua lain, menurut rilis yang dilakukan oleh badan riset TeleGeography.

Menurut analis TeleGeography Erik Kreifeldt. Hal ini karena sebagian besar Afrika masih mengandalkan satelit, yang jauh lebih mahal per bit dari broadband kabel, katanya. Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan penggunaan internet yang lebih luas akan mendorong peningkatan permintaan.

Selama ini, kebanyakan internet bandwidth antar benua disediakan oleh kabel bawah laut yang dibangun dan dibiayai oleh perusahaan penyedia layanan. Dari Afrika, sebagian besar dari link tersebut terhubungkan ke Eropa.Setelah tujuh tahun pertumbuhan yang perkiraan TeleGeography, dari 2012 sampai 2019, Afrika akan memiliki 17.2Tbps (bit per detik) link ke dunia luar. “Itu naik dari hanya 957Gbps pada 2012 tapi masih akan hanya sekitar seperempat dari kapasitas internasional Amerika Latin dan kurang dari Kanad” menurut TeleGeography.

Rasa lapar untuk Internet bervariasi antara negara-negara Afrika. Sampai 2019 nanti, permintaan bandwidth diharapkan tumbuh tercepat di Angola, pada 71 persen per tahun, Tanzania, pada angka 68 persen, dan Gabon, pada angka 67 persen.

“Banyak kabel baru telah dibangun untuk Afrika dan di seluruh benua dalam beberapa tahun terakhir, penyedia layanan memberikan kapasitas serat optik berlebih yang dapat diaktifkan bila diperlukan” ujar Kreifeldt

“Sementara Afrika memimpin dalam pertumbuhannya yang besar, permintaan untuk link jaringan internasional akan naik dengan cepat di semua bagian dunia,” kata TeleGeography. 

“Ini proyek Amerika Latin dan Timur Tengah yang tumbuh 37 persen per tahunnya, sementara Asia melebihi 30 persen dan bahkan Eropa dan Amerika Utara, daerah terbaik yang dilayani dan paling lambat tumbuh, akan meningkatkan bandwidth mereka dengan hampir 30 persen per tahun.” tukasnya.

Afrika adalah rumah bagi beberapa negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia, termasuk Ethiopia, Pantai Gading dan Rwanda, menurut Bank Dunia. Pada bulan April, bank proyeksi pertumbuhan tahunan rata-rata lebih dari 5 persen di sub-Sahara Afrika sampai tahun 2015.