Teknopreneur.com – “Nano Indonesia memang kalah dalam segi teknologi informasi dengan negara luar, namun jangan salah nano herbal kita nomor satu dunia. Negara luar belum punya, mereka sumber daya alamnya saja tak sekaya dengan kita,”ujar Dr Nurul Taufiq Rochman, Ketua Masyarakat Indonesia.

Sumber daya alam mineral yang bervariasi dan melimpah sebagai bahan baku nanomaterial dan sumber energi. Kita juga kaya akan flora dan fauna yang dapat digunakan untuk pengembangan pangan, farmasi dan kesehatan. Ditambah dengan letak geografis dan jumlah penduduk Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial bagi perkembangan nano Indonesia. Itulah potensi negara kita jadi tak perlu muluk-muluk seperti Amerika yang mengembangkan Blackberynya atau Korea dengan Samsungnya. Kita kalah tertinggal. Lebih baik manfaatkan tanaman yang ada di sekitar kita, itu yang akan menjadi daya tarik bangsa luar ke negara kita.

Lihat sekarang setelah nano teknologi masuk, perusahaan adidaya perlahan-lahan runtuh. Karena tak bisa mempertahankan apa yang ada. Investasi besar namun keuntungan kecil. Jika dipikir apa iya setiap hari orang yang sama beli komputer atau handphone, satu tahun sekali saja syukur. Kebanyakan juga jika sudah rusak baru membeli. Tapi jika nano pangan, kosmetik dan obat-obatan bisa tiap hari orang mencari, tiap hari orang membeli.

Bisnis saya tentang nano herbal berupa kunyit dan kumis kucing nano itu dicari hampir setiap harinya. Harga perkilonya kunyit dan kumis kucing nano itu 3 dan 1,2 juta perkilo. Itu dicari oleh negara luar untuk makanan dan kosmetik mereka. Dengan menjual tiga kilo kunyit nano saja bisa membeli komputer mereka. Itulah Kita harus pertimbangkan nilai ekonomisnya, bukan berarti kita tak boleh menciptakan nano IT, namun jauh tertinggal. Kembangkan apa yang ada, jangan sampai justru nano herbal seperti tempe kita menjadi hak paten mereka.

Mengapa nano herbal itu dicari karena mempunyai keunggulan selain aman ia juga lebih cepat menyerap dalam tubuh. Misalnya saja makanan yang diciptakan seperti propolis yang sekarang sedang naik daun. Propolis mengandung bioflavonoid 5,9%, ia cepat memberikan reaksi untuk peningkatan kesehatan,pencegahan, pengobatan dan rehabilitas pasca sakit. Itu menggunakan teknologi nano satu persatu miliat yang molekulnya sangat kecil sehingga mudah diserap oleh tubuh. Begitu juga dengan kosmetik herbal menggunakan nano teknologi, misalnya gizi super cream yang telah 40 tahun berdiri. Dengan investasi satu miliar-dua miliar baru dua atau tiga tahun sudah balik modal.