Teknopreneur.com – Impor seolah menjadi solusi terakhir untuk mengatasi kekurangan kedelai di negara ini. Padahal karena impor diadakan besar-besaran, justru membuat harga lokal terjun bebas. Namun tetap saja kebijakan impor yang mereka buat tak mau disalahkan. Ketidakmampuan petani lokal untuk menghasilkan kedelai yang berkualitas sama dengan impor dijadikan kambing hitam oleh pemerintah.

Kualitas kedelai lokal pun kalah jauh dengan dengan lokal. Seperti yang dikutip dari detik.com Misalnya dari sisi ukuran, kedelai lokal rata-rata berukuran 15 gram per 100 butir. Sementara kedelai impor ukurannya 18 gram per 100 butir. Ditambah lagi kedelai impor  berwarna putih dan memiliki kandungan protein tinggi sebesar 35 persen.

Pengrajin tempe juga lebih memilih menggunakan kedelai impor dbandingkan dengan kedelai lokal. Alasannya harganya lebih murah dan bisa tersedia setiap waktu. Berbeda dengan kedelai lokal yang hanya tersedia diwaktu tertentu saja.

Untuk mengatasi ketidaklakuan kedelai lokal maka harga negeri sendiri terjun bebas. Harga jual tak bisa menutupi modal untuk memproduksi. Harga jualnya hanya Rp 8.100 sedangkan biaya untuk produksi per kilo saja mencapai Rp 6.500 belum dihitung dengan ongkos distribusinya. Sedangkan kedelai impor harganya lebih mahal Rp 8.490/Kg dan bea masuknya telah dihapuskan. Akhirnya, para petani merasa tidak diuntungkan dan  memilih komoditas lain yang lebih menguntungkan seperti tebu,padi dan jagung.  Alhasil kedelai mengalami kelangkan, dan pemerintah memilih jalan keluar dengan impor besar-besaran.