Teknopreneur.com – Benih kedelai yang bermutu adalah benih yang telah bersertifikat. Namun tak sembarangan benih bisa bersertifikat harus memiliki izin dari penangkaran benih harus ada syarat-syarat yang dipenuhi. Pertama varietas yang dapat disertifikasi benihnya harus telah ditetapkan sebagai varietas yang dapat disertifikasi oleh menteri pertanian. Benih yang akan ditanam untuk menghasilkan suatu kelas benih yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya untuk menghasilkan benih sebar harus ditanam benih pokok.

Areal sertifikasi juga harus diperhatikan karena tanah yang digunakan untuk memproduksi benih bersertifikat harus memenuhi persyaratan dan tak sembarangan tergantung komoditi apa yang akan diproduksi, karena masing-masing komoditi memerlukan persyaratan sejarah lapangan yang berbeda. Pemeriksaan lapangan dan laboraturium pun perlu dilakukan untuk menilai hasil benih dari pertanaman termaksud memenuhi standar benih bersertifikat maka diadakan pemeriksaan lapangan oleh pengawasan,pengujian mutu dan benih oleh analisis benih.

Peralatan panen dan prosesing yang digunakan untuk panen pun harus bersih terutama jika bekas dari varietas yang tidak sama dengan yang akan diproses atua dipanen. Untuk menjamin ini maka harus dilakukan pemeriksaan sebelum penggunaannya oleh pengawas benih. Dalam ketentuan yang sudah ditetapkan juga tercantum bahwa proses sertifikasi akan selesai apabila benih telah dipasang label. Label yang akan digunakan adalah label yang dikeluarkan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Proses sertifikasi dikatakan selesai bila telah dicantumkan label yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Ketentuan pemakaian label pun tak boleh sembarangan. Untuk benih penjenis atau breeder seed (BS) labelnya berwarna kuning, untuk benih dasar atau foundation seed maka label berwarna putih. Untuk benih pokok atau stock seed label berwarna ungu sedangkan benih sebar atau extension seed (ES) benih berlabel biru.