Teknopreneur.com – Tahu dan tempe bukan hanya makanan rakyat yang murah meriah tapi juga memiliki kandungan gizi yang tak kalah dengan makanan mahal lainnya, seperti ayam, ikan dan daging. Namun sayang beberapa tahun ini makanan merakyat ini justru mengalami kelangkaan dan harganya melonjak naik empat kali lipat.

Bukan hanya rakyat yang kebingungan pemerintah pun hingga kini sulit mencari jalan keluar. Kebijakan impor justru memperparah keadaan, bukan saja berakibat petani kedelai kehilangan mata pencaharian tapi juga kedelai impor hingga kini masih dipertanyakan kualitasnya. Karena kedelai yang diimpor dari luar rata-rata hasil dari rekayasa genetika, yang diduga memiliki dampak bahaya bagi kesehatan si pengkonsumsinya.

Hal itulah yang membuat Adi Widjaja, petani sekaligus peneliti pertanian melakukan budidaya Kedelai Grobogan. Grobogan, merupakan benih lokal yang dinilai memilki keunggulan dibandingkan dengan benih lokal lainnya.

Dikutip dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Grobogan merupakan varietas lokal yang umurnya lebih pendek, polongnya besar,dan tingkat kematangan polong dan daun bersamaan, jadi pada saat dipanen daun kedelai sudah rontok.

Cara Budidaya Grobogan

Wajar jika Kedelai Grobogan merupakan kedelai unggulan, karena dalam pembudidayaan harus sangat diperhatikan agar tetap terjamin kualitasnya hingga dipasarkan. Hal pertama yang mesti dilakukan untuk membudidayakan benih hasil pemurnian populasi lokal Malabar Grobogan ini adalah dengan melakukan penyeleksian pada benih. Benih harus dipilih dari kelas Breeder Seed hingga stock seed, tergantung benih apa yang ingin kita hasilkan. Jika untuk menghasilkan kedelai konsumsi maka digunakanlah kedelai dengan kelas extension seed. Untuk menanam kedelai grobogan dengan menggunakan lahan tegalan maka perlu dilakukan pengolahan secara intensif, dibajak dan diratakan. Namun jika tanah yang digunakan bekas padi maka tidak perlu diolah atau tanpa olah tanah (TOT). Jarak tanam yang diperlukan sekitar 40×10 cm,20×20 cm, atau lebih dianjurkan pada jarak 35x15cm. Tanahnya ditugal sedalam 2-3 cm, dua biji perlubang. Sebelum ditanam, benih dicampurkan dengan media inokulum dengan dosis 1 kg untuk 1 ha.

Untuk mempercepat pertumbuhan maka diperlukan pemupukan, sehingga setelah dilakukan penanaman lubang tugal disemprot dengan kompos cair BMF Bio Lemi dengan dosis 10 liter/ha lalu ditutup kembali dengan tanah. Ditambahkan juga pupuk phonska yang mengandung nitrogen,posfat dan kalium selama 1-10 hari dengan dosis 150 kg/ha. Pupuk bio cair BMF Bio Fert Plus juga diaplikasikan pada 14 hari setelah tanam (hst), 28 hst,35 hst,dan 42 hst dengan dosis 40 ml/tangki semprot 14 liter, sebanyak 1,5 liter per penyemprotan per ha atau total sebanyak 7,5/ha sepanjang masa tanam.

Selain itu harus dilakukan perawatan dengan melakukan penyingangan rutin 1-2 kali sesuai dengan banyak dan sedikitnya gulma. Selain itu hama dan penyakit tanaman pun harus dikendalikan secara rutin agar kedelai grobogan  tidak mengalami kerusakan. Meski perawatan kedelai Grobogan sedikit berbeda dengan benih lain namun kedelai ini dapat beradaptasi baik pada beberapa kondisi lingkungan tumbuh yang berbeda, dan hasilnya pun bisa mencapai  3,40 t/ha.

Dikutip dari Suara Merdeka tingginya kini permintaan pasar dan untung yang menjanjikan menjadikan persebaran tanaman kedelai di Grobogan merambah ke berbagai kecamatan, seperti Karangrayung, Kradenan, Gabus, Toroh, dan Pulokulon dengan luas lahan keseluruhan mencapai 300 ha. Dengan lahan kedelai di seluruh kabupaten seluas 24.500 ha dan produksi bisa 65.775 ton, Grobogan mampu memberi kontribusi 43,14% dari total produksi kedelai Jateng yang mencapai 152.416 ton, dan 7,72% untuk tingkat nasional sebesar 851.647 ton. Dilihat dari daerah sebarannya yang cukup besar di Indonesia maka bisa dibilang tidak mungkin jika kedelai grobogan bisa mengatasi kekurangan.