Teknopreneur.com – Kedelai Grobogan kini mulai dikembangkan oleh petani lokal khususnya daerah Jawa Tengah. Kedelai ini lebih unggul dibandingkan dengan varietas lainnya karena polongnya lebih besar, mempunyai waktu kematangan polong dan daun yang sama dan bisa dipanen dengan waktu cepat. Meski begitu produktivitas kedelai asal kabupaten Grobogan ini tetap harus ditingkatkan mengingat kebutuhan akan kedelai di Indonesia semakin meningkat. Jumlah Bintil akar pada kedelai sangat berpengaruh pada produktivitas kedelai. Semakin banyak jumlahnya maka semakin menjamin pertumbuhan organ tanaman kedelai. Pada bintil akar terdapat bakteri Rhizobium japonicum yang akan berkembang pesat jika semua unsur yang diperlukan tersedia. Nutrisi bintil akar mesti dipastikan terkandung didalamnya baik dalam bentuk senyawa sederhana maupun kompleks. Jika nutrisi yang terkandung hanya dalam jumlah sedikit maka perlu ditambahkan lewat pemberian media inokulum.Karena media inokulum mengandung nutrisi untuk pertumbuhan bintil akar media inokulum juga mengandung prebiotik mikroba tanah dan humus concentrate plus sehingga semakin mempercepat pertumbuhan kedelai. Caranya dengan mencampurkan tanah bekas tanaman kedelai Grobogan (MT-1)( Rhizobium Spdan Mycorrhiza dan bakteri lainnya) denga inokulum BMF dengan perbandingan satu berbanding lima. tiga berbanding lima atau lima berbanding lima. Dari masing-masing perlakuan diambil satu gram inokulum untuk seratus biji kedelai. Biasanya bintil akar akan tumbuh dalam waktu 11 hari. Selain menambahkan media inokulum pada bekas tanah, meningkatkan daya kerja bakteri Rhizobium japonicum dengan melakukan pemumpukan nitrogen pada awal pertumbuhan kedelai. Biasanya dilakukan pada minggu pertama saat akar tanaman belum berfungsi. Sehingga dengan bertambahnya nitrogen akan merangsang pembentukan bintil akar. Namun pemupukan nitrogen tak boleh terlalu banyak, karena jumlah bintil akar semakin banyak sehingga ukurannya terlalu kecil mka efektivitas dalam pengikatan nitrogen dari atmosfer justru berkurang.