Teknopreneur.com – Kedelai langka kedengarannya sudah biasa. Tempe dan tahu yang dikenal dengan makanan rakyat namun bergizi tinggi mendadak menjadi makanan elit.  Pemerintah seolah tak ada solusi lain selain mengimpornya dari luar negeri. Padahal itu bukanlah menjadi solusi justru menambah masalah yang baru. Semakin tinggi impor justru tingkat produktivitas kedelai menjadi lambat.

Namun hingga kini pemerintah belum bisa mencari solusi lain selain impor. Hal itu diakui oleh Menteri Pertanian Suswono pada situs web VOA Indonesia (4/10), bahwa target Indonesia adalah mencapai swasembada bahan pangan, termasuk kedelai, namun saat ini negara ini masih perlu mengimpor kedelai karena kebutuhan nasional yang tinggi.  Indonesia masih butuh mengimpor dua pertiga dari kebutuhan total kedelai, atau sekitar 1,4 juta ton lagi. Hal sama juga ternyata dinyatakan oleh Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan pada Merdeka.com yang mengatakan bahwa tidak usah ragu-ragu lagi jika ada akekurangan stok kedelai. Pemerintah membuka seluas-luasnya untuk impor asalkan harganya bisa lebih rendah.

Hal tersebut justru membuat produktivitas kedelai lambat seperti yang tercatat pada data Kementerian Pertanian-Ri Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Budidaya Aneka Kacang Dan Umbi Maret 2013, Luas panen dan produksi turun tajam pada saat impor melonjak tahun 1999, 2002, 2007, 2011 bea masuk turun, perbedaan harga kedelai lokal dengan impor tinggi, dan tidak ada bea masuk, serta pertumbuhan tingkat produktivitas lambat.

Semakin tahun semakin menurun. Rata-rata penurunannya mencapai 4,05% selama dua puluh tahun luas areal kedelai mengalami penurunan hingga 65,75%. Penurunan produksi pun terjadi rata-rata 3,05% pertahun. Pertumbuhan produktivitasnya juga melambat, rata-rata 1,04% pertahun. Ini berbanding terbalik dengan impor kedelai yang semakin meningkat. Dengan tingkat pertumbuhan  meningkat rata-rata 13,32 %/tahun selama 20 tahun.