Siapa sangka alat semacam kopiah solat bisa menyembuhkan kanker ganas yang menyerang Wili Saputra. Alat tersebut  seperti kopiah biasa bedanya diselipkan kabel dan baterai yang berguna memancarkan  gelombang yang bisa membunuh sel ganas pada kanker otaknya. Bisa dibilang Wili saat itu idiot, karena otak kirinya tak berkerja normal hingga indra penglihatan, pendengaran dan pengecap menjadi tak terkontrol. Matanya bergerak sendiri begitu juga kaki dan tangannya.

Saat itu menurut dokter tak ada alternatif lain selain radiasi. Pemuda 23 tahun itu ketakutan karena ia teringat adik ayahnya yang diradiasi karena sakit yang sama dua bulan kemudian meninggal dunia. Berbagai macam obat dokter dan berbagai pengobatan alternatif telah dicoba Wili namun tak juga sembuh. Wili justru mengalami kelumpuhan.

Hingga pada akhirnya keluarga Wili menemukan korang yang menceritakan bahwa Dr Warsito P Taruno, M Eng, telah berhasil membuat alat pendeteksi dan penghancur kanker payudara tanpa resiko seperti diradiasi. Keluarga Wili mendatangi Warsito dan membujuknya membuatkan alat serupa, namun untuk kanker otak.

Agak enggan namun akhirnya Warsito membuatkannya, Warsito takut resikonya. Karena ia belum pernah membuat alat untuk kanker otak. Warsito akan membuatkan asalkan baik Wili maupun keluarganya tahu resikonya belum tentu berhasil atau bahkan memperparah keadaan. Wili pasrah, ia dijadikan pasien sekaligus bahan riset Warsito.

Tapi siapa sangka peruntungan Warsito berhasil, Wili sembuh setelah tiga bulan di terapi dengan ECTV Electrical Capacitance Volume Tomography mirip dengan USG / CT Scan. Sebelum dterapi dengan ECTV, wili discan dengan alat pendeteksi kanker, ECCT (Electrical Capacitive Cancer Treatment). Suatu alat semacam topi yang ada dikaitkan dengan kabel. Kabel pada  ECCT akan memancarkan gelombang dan akan ditangkap oleh sensor kabel lainnya, setelah itu mesin pengolah sinyal akan dikirim ke komputer. Gambar aktivitas kanker pun terlihat pada layar. Otak Wili ada yang bolong, itu berarti gelombang tak bisa masuk karena adanya sel kanker ganas.

Wili pun diterapi dengan ECTV. Seminggu pertama rasa tak nyaman menyergap Wili, kepalanya terasa panas dan terasa ada pertempuran di kepalanya.  Rasa tersiksa ketika ia harus menggunakannya selama dua puluh jam. Tidak bisa tidur selama seminggu, tak bisa buang air, tak bisa makan. Setelah dua bulan ia menjalankan terapi wili pun bisa jalan. Ia lepas tongkat. Dan saat tiga bulan CT Scan ia normal dan kini Wili sehat tak ada keluhan pada dirinya. Wili pun menjadi asisten sekaligus motivator di klinik riset milik Warsito di Tanggerang.

Alat milik Warsito ini sebenarnya tak ingin ia komersilkan, namun dari mulut ke mulut alat penghancur kanker ganas ini justru menyebar. ECCT dan ECTV awalnya hanya diperuntukan Warsito untuk kakaknya yang terkena kanker payudara. Kini ECCT dan ECTV tak hanya berkembang untuk kanker otak dan payudara namun juga kanker lidah dan rahim. Klinik yang awalnya ruko itu juga berkembang semakin pesat, pasien yang datang tak hanya dari luar kota namun juga mancanegara.