Bahasa merupakan aset suatu bangsa. Dengan menguasai teknologi bahasa maka suatu bangsa tidak tergantung dengan negara lain. Dan bahasa merupakan daya saing suatu bangsa. Namun sayang teknologi bahasa Indonesia justru orang asing yang mengembangkannya. Mereka saat ini sedang aktif-aktifnya melakukan riset pada bahasa kita. Mereka melakukan itu bukan tanpa tujuan, mereka akan menjadikan Indonesia pasar. Pasar penjualan produk mereka. Bahkan mendapatkan data-data suara dan tulisan untuk meperbaiki sistem yang telah mereka ciptakan. Apalagi sekarang jumlah yang menggunakan mobile phone hampi sama dengan jumlah penduduk di Indonesia.

NARA Institut misalnya Asing justru yang menguasai Indonesia, NARA Institut misalnya ia sudah melakukan riset komputasi bahasa di Indonesia. Membuat speech recognition dari bahasa Jawa, Batak dan Sunda. Bayangkan ini Jepang bukan orang Indonesia, yang mengembangkannya. NARA juga sudah mengembangkan speech to speech translation, dimana orang-orang dari berbagai dunia bisa bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa sendiri. Jadi hanya alat yang menerjemahkannya.

Nuans di Amerika dan Google translate pun telah menguasai teknologi komputasi Indonesia. Mereka sangat semangat menguasai kita. Sedangkan orang Indonesianya sendiri hanya diam saja, karena ingin instan. Lebih senang menjadi konsumen membeli produk sendiri dibandingkan membuatnya sendiri. Padahal jika dilihat dari potensi bisnis itu sangat besar.

Misalnya saja aplikasi mengubah suara menjadi tulisan itu berpotensi besar.  Nuans misalnya membuat aplikasi speech recognition untuk mobil di dunia. Itu keuntungannya sangat besar sekali bagi Nuans. Pasti banyak peminatnya dan orang Indonesia salah satu bidikan mereka. Amat sayang jika kita hanya menjadi konsumennya.

Menurut Oskar Riandi, Chief Executive Officer Bahasa Identitas Nusantara, sebenarnya Indonesia telah menciptakan alat yang serupa jauh sebelum Google translate masuk ke Indonesia namun karena terkendala uang jadi tak bisa segencar mereka. Oskar Riandi membuat suatu aplikasi bernama Cloudicta yaitu suatu alat yang bisa mengubah suara menjadi tulisan dengan menggunakan computasi cloud tanpa memerlukan mikropon. Ia bisa mengenali karakter dari orang yang bicara.

Cloudicta tak hanya akan mengembangkan alat yang bisa mengubah suara menjadi tulisan atau speech to text, tetapi juga speech recognation atau suara manusia yang bisa berkomunikasi dengan mesin, translation atau mentranslate dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dan combination speech to speech translation. Dimana bisa mentranslatekan beberapa bahasa jadi bisa berdialog dengan orang asing meski dengan bahasa sendiri. “Jadi jika kita bisa mengembangkan teknologi bahasa kita sendiri maka kita tak tergantung dengan negara asing, kita bisa menciptakan berbagai macam aplikasi tanpa harus menjadi konsumen mereka,”ujar Oskar.