Teknopreneur.com – Sejak handphone pintar menyerbu ke pasar Indonesia, intensitas perang tarif para operator semakin menurun. Menurut Internasional Data Center (IDC) angka smartphone yang mencapai 1,1 miliar di tahun 2012 membuat jenuhnya layanan sms dan voices. Catatan Frost & Sulivan pada tahun 2012 pemakaian percakapan (minutes of usage/MoU) sebesar 192,4 dengan rata-rata pendapatan pengguna Rp 39.551.  Pada tahun 2013 meningkatan sedikit dengan rata-rata pendapatan pengguna Rp 39.936.

IDC juga memprediksi akan semakin tipisnya kenaikan pemakaian percakapan oleh pelanggan. Di tahun 2014, Rp 39.847 dan di tahun 2015 Rp. 39.510, oleh sebab itu para operator tak bisa mengandalkan penggunaan percakapan sebagai sarana meningkatkan pendapatan. Perang tarif pun tak bisa lagi dilakukan karena beresiko mengalami kerugian.

Mereka tak lagi perang tarif mereka fokus pada aplikasi luar yang lebih diminati dibandingkan dengan sms dan voices. Konten over the top, seperti youtube, skype, whats app merupakan sebuah layanan yang bisa mentransmisi data, video dan suara tanpa memerlukan operator. Sehingga nyawa operator-operator telekomunikasi di Indonesia diambang batas.  Mereka sebaiknya tak lagi perang tarif namun berkolaburasi hingga bisa membuat aplikasi serupa yang sama dengan aplikasi luar yang lambat laun mematikan pendapatan mereka.