Teknopreneur.com – Pemakaian minyak jelantah untuk kalangan menengah atas mungkin bisa diminalisir penggunaannya. Bahkan tak digunakan untuk memasak. Namun untuk kalangan menengah bawah seperti pedagang kaki lima atau warung tegal sulit untuk dicegah. Harga minyak yang bisa dibilang tak murah, sehingga sayang jika baru sekali pakai langsung dibuang..

Namun menggunakan minyak jelantah secara berulang-ulang bisa berakibat fatal bagi kesehatan. Kandungan lemak tak jenuh serta vitaminnya yang berkurang ketika digunakan terus menerus mengakibatkan kandungan yang tersisa hanya lemak jemu. Lemak jenuh yang terkandung pada minyak jelantah bisa mengakibatkan kanker, karena terdapat senyawa karsinogenik.

Pedagang kaki lima biasanya memanipulasi minyak jelantah menjadi minyak baru biasanya menggunakan plastik. Agar warna hitamnya jelantah hilang karena terserap ke plastik. Hal itu justru membuat minyak jelantah semakin berbahaya untuk dikonsumsi. Oleh sebab itu Ikhtiar Dwi Wardana dan Faza Fachry dari institut Balitbang Jawa Tengah meneliti ampas nanas untuk memperbaiki kualitas minyak jelantah. Inovasi mereka ini telah masuk ke dalam 103 inovasi Indonesia versi Business Inovation Center (BIC).

Ampas nanas selain harganya yang terjangkau juga bisa menurunkan kadar FFA  atau asam lemak bebas dan zat karsinogen pada minyak jelantah.  Ampas nanas juga mampu menyerap karbon aktif sehingga minyak jelantah yang berwarna hitam bisa kembali jernih. Selain ditunjukan dengan perubahan warna, meningkatnya kualitas minyak jelantah ditunjukan dengan meningkatnya titik didih dan titik asap pada minyak.