Teknopreneur.com – Belajar itu tak mesti duduk manis dibangku kelas apalagi bertatap muka dengan guru. Kini belajar bisa dimana saja bahkan dengan gaya apa saja. Belajar cara itu disebut dengan e-ducation, saat ini kebutuhannya terbagi menjadi dua kategori besar. Pertama, konten e-learning yang merupakan pendorong siswa guna meningkatkan kualitas belajar. Kedua, sistem manajemen yang akan memudahkan seluruh civitas akademika dalam menunjang sistem belajar mengajar.

Beberapa pemain lokal kini sudah bisa mengisi pos-pos education ini. Bahkan di sektor konten e-learning, beberapa perusahaan sudah berhasil melebarkan sayapnya ke level internasional. Peluang besar e-learning juga berpeluang besar penerapan e-duacation di Indonesia sejatinya terdapay pada sistem sistem manajemen lembaga pendidikan. Untuk di Indonesia sistem manajemen lembaga pendidikan berbasiskan teknik informatika memang masih didominasi oleh perguruan tinggi dan sebagian sekolah menengah atas.

Progrma e-ducation sedang marak digencarkan itu bertujuan untuk memeratakan pendidikan. Sekitar 61 juta anak usia pendidikan dasar,71 juta anak usia sekolah menengah di seluruh dunia masih belum mengenyam dunaia pendidikan. Sementara tak kurang dari 793 juta orang dewasa dengan 64% diantaranya perempuan masih buta aksara. Sub sahara Afrika dan kawasan Asia Selatan serta Barat masih menjadi penyumbang terbesar penduduk buta aksara.

Laporan international Telecomunication Union (ITU) yang menyatakan pada akhir 2011 jumlah pengguna mobile phone mencapai 6 miliar dunia sedang berusaha memanfaatkan penggunaan mobile phone untuk dunia pendidikan. Educause saat ini 31% dari siswa di dunia mengikuti kursus online.