Teknopreneur.com – Seiring meningkatnya permintaan listrik di Indonesia yang pertumbuhannya mencapai 8,5% per tahun dan semakin minimnya persediaan energi berbasis fosil, PLN akan membangun pembangkit listrik sebesar 13 ribu MW yang bersumber dari tenaga air, panas bumi, biomassa dan matahari. 

PLN menargetkan kenaikan penggunaan sumber energi primer EBT dari 12% menjadi 20% pada tahun 2021. Hal ini, demi menjaga ketahanan dan keamanan pasokan energi yang saat ini masih didominasi oleh bahan bakar fosil yang diperkirakan akan habis dalam beberapa puluh tahun mendatang. 

Saat ini pembangkit listrik PLN di Indonesia terdiri dari 86,3% pembangkit non EBT dan 13,7% pembangkit EBT. Dari sisi sumber energi primer, pengunaan bahan bakar fosil masih dominan sebanyak 88% yang terdiri dari 44% batu bara, 23% bahan bakar minyak (BBM), dan 21% gas alam. Porsi energi primer dari EBT masih sebesar 12% saja. 

Pengembangan EBT dengan total 13 ribu MW ini, diperkirakan memerlukan biaya investasi sebesar USD 77,3 milyar. Demikian besarnya kapasitas yang harus dibangun dengan biaya investasi yang tidak kalah besar, diharapkan sebanyak 47% dari total kapasitas ini dikerjakan oleh pihak swasta. Hal ini karena keterbatasan sumber dana investasi PLN.

Namun, rencana ini nampaknya bertolak belakang dengan apa yang telah diproyeksikan PLN di lapangan baru-baru ini, dengan membangun PLTU Unit II berbasis batu bara di Cirebon yang saat ini masih menunggu negosiasi harga listrik. Negosiasi pembelian listrik dari pembangkit dengan kapasitas 1.000 Mega Watt (MW) tersebut rencananya bisa selesai hingga akhir tahun 2013.

Sebelumnya, PLTU Cirebon unit 1 dengan kapasitas 660 MW dibangun oleh PT Cirebon Electric Power dengan mekanismeIndependent Power Producer (IPP). Konsorsium terdiri atas Indika Energy Tbk, Marubeni Corporation, Korea Midland Power Company, dan Santan Co.Ltd dengan total nilai investasi mencapai US$ 1,2 miliar. Namun, dari sisi teknologi, proyek ini merupakan pioner dalam penggunaan supercritical boiler technology yang mampu mengolah batubara kalori rendah yang banyak tersebar di Indonesia secara efisien.