Teknopreneur.com – Meski menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi nasional, riset dan inovasi di Indonesia nampaknya masih belum menjadi
prioritas. Hal ini tercermin dari anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk mendanai kegiatan riset dan inovasi di
lembaga-lembaga penelitian milik negara. Menurut Andrianto Handojo, Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) anggaran riset di
Indonesia hanya 0,08 persen dari total Gross Domestic Bruto (GDP). Jika dihitung, angka mencapai sekitar Rp5 triliun per
tahun.

“Anggaran untuk satu pemilukada itu mencapai Rp1 triliun. Itu angka yang sama untuk anggaran penelitian di perguruan
tinggi yang dikelola oleh Kemendiknas,” ujar Andrianto saat ditemui di sekertariat DRN di gedung BPPT.

Komite Inovasi Nasional (KIN) yang berada di bawah naungan presiden sebenarnya sudah mengusulkan untuk menaikkan anggaran
riset menjadi 1 persen dari GDP. Sementara di negara-negara maju, anggaran riset mencapai 2 persen dari GDP. Jika angka 1
persen di sepakati, Indonesia akan memiliki anggaran hingga Rp80 triliun. Sehingga secara tidak langsung anggaran riset
masih kurang Rp75 triliun.