Nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar AS.

Teknopreneur.com – Hingga berita ini ditulis, rupiah sempat menyentuh 10,723 per dolar AS pada pukul 16.59 WIB Selasa (20/8/2013) tadi.

Menurut Managing Director Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati dalam diskusi di Kongres Diaspora global ke-2 di Jakarta Convention Center, Senin (19/8) ini salah satunya dikarenakan pelemahan nilai permintaan produk ekspor dari Indonesia. Salah satunya dapat terlihat dari pelemahan neraca pembayaran Indonesia.

“Saat ini, investasi dalam negeri sedang melemah. Ini bukan berita yang baik. Tapi kalau mau pertumbuhan ekonomi Indonesia bagus, investasi harus ditingkatkan, khususnya investasi yang produktif dan bukan konsumtif semata,” ujarnya.

Menurut Tedy Tricahyono, ketua dari PIKIR Institut (Pusat Inovasi dan Kemandirian Indonesia Raya) saat dikonfirmasi tanggapannya mengenai hal ini mengatakan bahwa naik turunnya kurs itu lumrah untuk negara dengan rezim devisa bebas, tapi penurunan yang drastis mengindikasikan ada faktor-faktor lain.

“Sederhananya, penurunan nilai rupiah dapat dilihat dari faktor  moneter dan dan sektor riil. Faktor moneter, menunjukkan rendahnya kebutuhan penggunaan rupiah dan meningkatnya pemakaian mata uang asing. Sedangkan dari sektro rill, yang dikhawatirkan ialah meningkatnya biaya-biaya impor. Terlebih lagi bahan baku, sehingga menghambat kegiatan industri.” Ujarnya.

“yang dikhawatirkan adanya faktor-faktor non ekonomi, seperti faktor politis dan lain-lain.” pungkas Tedy yang merupakan alumni dari ITB ini.

Imbas Statemen Pemerintah?

Sedangkan menurut Riset Trust Securities seperti dikutip dari Kompas menyatakan hal itu adalah imbas dari penyampaian asumsi-asumsi makro dalam pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai tidak sesuai kondisi riil.

Hal itu masih ditambah lagi dengan komentar Menteri Keuangan Chatib Basri beberapa waktu lalu yang tetap yakin nilai tukar rupiah masih dalam level aman.  Pelaku pasar menganggap komentar tersebut tidak mengindikasikan adanya langkah strategis dalam menahan pelemahan Rupiah.