Teknopreneur.com –Tak hanya melalui perusahaan penerbit resmi. Dengan adanya kemudahan teknologi dan perubahan perilaku pasar yang dihasilkannya, kini anda bisa membuat, mendistribusikan dan menjual buku sendiri dari rumah anda. Berbekal perangkat software ebook converter yang melimpah.

Dulu tantangan self-publishing masih pada bagaimana menyiapkan dana untuk buku cetak offset, sekaligus mendistribusikan dan menjualnya. Namun, kini hal itu bukan lagi masalah bagi seorang penulis yang mau menjadi self-publisher.

Ancaman Bagi Penerbit Mayor?

Melalui situs seperti Amazon, Apple dan Google, Wayangforce, dll penulis dapat mempublikasikan sebuah e-book dalam hitungan menit dan siapkan untuk dijual hari itu juga.

Hal inilah yang mulai mengancam penerbit di Amerika dan Eropa. Kini mereka tak lagi bersaing dengan sesama penerbit (major), tapi kini mereka bersaing dengan penulis sendiri sebagai penerbit swakelola (self-publisher) yang bahkan dapat mengerjakan proses penerbitan dari salah satu ruangan rumah hanya dalam hitungan hari.

Seorang penulis e-book dari Inggris Polly Courtney mengatakan saat ini ada kecenderungan peningkatan jumlah penulis yang memilih untuk menjauh dari rute tradisional menjadi digital dan mampu mengendalikan secara online distribusi digital mereka sendiri.

“Saya benar-benar percaya ini adalah model di masa depan -untuk lebih baik atau lebih buruk- dan penerbit tradisional perlu bersiap untuk itu dan mengetahui bagaimana mereka bisa masuk di dalamnya.” Ujarnya seperti dikutip dari SkyNews.

Model POD belum berkembang di Indonesia

Menurut Mark Hanusz seorang penulis, penerbit, dan pendiri Equinox publishing, saat ini terdapat perbedaan perkembangan penerbitan yang begitu mencolok antara penerbitan buku tradisional dengan penerbitan buku non tradisional. Penerbitan buku tradisional dahulu mendominasi di tahun 2002 (87%). Kebalikannya di tahun 2010, penerbitan non tradisional mendominasi sebesar 90%.

“Keuntungan dari penerbitan non tradisional adalah adanya print on demand atau POD. POD adalah cara menerbitkan buku berdasarkan permintaan, dengan begitu tidak ada lagi stok buku yang memenuhi gudang. POD dikembangkan setelah dimulainya penerbitan digital. Dengan POD, percetakan menjadi lebih ekonomis dibandingkan dengan percetakan tradisional. “ ujarnya.

“Indonesia adalah pasar yang belum dimanfaatkan dalam penerbitan digital. POD (print on demand) adalah cara masa depan. Dengan POD membuat penerbitan layak dan terjangkau, karena biayanya sangat rendah.” Pungkasnya.