“Inovasi adalah darah daging perkembangan sosial dan ekonomi, namun hal ini membutuhkan lingkungan yang terstruktur  yang memungkinkan berkembangnya kebijakan pasar bebas dan perlindungan terhadap hak-hak intelektual,” kata Ken Hu, yang saat ini menjabat sebagai CEO dan Deputy Chariman di Huawei, yang juga menjadi Knowledge Partner untuk GII 2013 ini.

Sektor publik dan swasta harus bekerjasama secara terbuka untuk membangun dan mempromosikan lingkungan-lingkungan yang mendukung seperti ini, di mana kemampuan berinovasi yang lebih tinggi dapat memberikan keuntungan kepada seluruh masyarakat. Bruno Lanvin, wakil editor GII 2013 dan direktur eksekutif European Competitiveness Initiative dari INSEAD, saat mempresentasikan temuan-temuan utama laporan ini di sebuah acara yang diselenggarakan Huawei, mengatakan: “Inovasi adalah faktor utama yang menentukan kemampuan bersaing sebuah negara, dan juga menjadi simbol kemajuan dan perubahan di seluruh dunia.

Mereka melihat beragam contoh menarik tentang keberhasilan inovasi di pasar-pasar berkembang yang menjadi sumber optimisme akan masa depan inovasi global dan pemulihan ekonomi walaupun masih ada banyak tantangan-tantangan berat yang dihadapi banyak pemain baru. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kami yang terdalam kepada Huawei, sebagai pemimpin global yang sadar akan inovasi, untuk dukungannya dalam laporan GII 2013.

Walaupun ada pergerakan dan pergantian peringkat dalam 25 negara dan perekonomian teratas yang terpilih tahun ini, tidak ada anggota baru dalam kelompok 25 teratas tersebut (semuanya negara atau perekonomian berpendapatan tinggi). Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi negara berpendapatan rendah untuk menembus jajaran peringkat 25 teratas. GII 2013 juga menekankan bahwa konsentrasi inovasi secara geografis mulai menyebar dari negara-negara maju ke negara dan perekonomian berkembang, membuat penyebaran inovasi semakin merata di seluruh dunia Costa Rica, Argentina, Uganda, dan Mali adalah beberapa negara yang masuk kategori pemain baru yang paling menonjol dalam index dunia tahun ini.

Edisi tahun 2013 Index, yang saat ini sudah masuk ke tahun ke-6, memberikan perhatian khusus terhadap dampak inovasi lokal, yang seringkali terlihat terpusat pada kelompok-kelompok inovasi seperti Silicon Valley di Amerika Serikat, Shenzhen di Cina, dan wilayah Mumbai di India.  Melalui beberapa bab analisanya, GGII 2013 membahas bagaimana inovasi didukung oleh ‘loca l specifics’  atau kebutuhan-kebutuhan lokal, yang berbeda-beda di setiap belahan dunia.

Salah satu pesan utama yang diangkat oleh GII 2013 adalah terlalu banyak strategi inovasi yang berusaha keras untuk meniru kesuksesan sebelumnya, misalnya meniru keberhasilan inovasi Silicon Valley di California. Mengembangkan inovasi lokal memerlukan strategi yang harus erat kaitannya dengan keunikan-keunikan, sejarah, dan budaya lokal. Faktor-faktor ini harus digabungkan dengan pendekatan global yang bertujuan untuk menggapai pasar-pasar asing dan menarik tenaga-tenaga asing.

“Pusat-pusat inovasi yang dinamis semakin banyak muncul di seluruh dunia, terlepas dari kondisi perekonomian global saat ini. Pusat-pusat inovasi ini menghubungkan manfaat -manfaat lokal dengan perkembangan pasar dan tenaga kerja global,” ungkap Direktur Umum WIPO, Francis Gurry, pada peluncuran resmi GII di Jenewa tanggal 1 Juli 2013.

“Bagi para pembuat kebijakan berskala nasional yang ingin mendukung inovasi, menyadari potensi maksimal inovasi yang berasal dari lingkungan sekitarnya seringkali menjadi pendekatan yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan pendekatan yang mengadaptasi model inovasi yang berhasil di tempat lain.” Terlepas dari melemahnya perekonomian global, investasi di seluruh dunia untuk riset dan pengembangan terus menunjukkan peningkatan selama 12 bulan terakhir, dan saat ini menempati posisi tertinggi dalam sejarah. Peningkatan sebesar dua digit yang terjadi di pasar-pasar yang berkembang (emerging markets), terutama di Cina, India dan Malaysia, turut mendorong peningkatan tersebut.

Berikut adalah beberapa temuan penting dari Global Innovation Index 2013, yang diterbitkan oleh Cornell University, INSEAD, dan World Intellectual Property Organization (WIPO). Laporan GII ini merupakan salah satu tolak ukur kemampuan inovasi dari 142 negara dan kawasan ekonomi dunia. Laporan ini menggunakan beragam kriteria, sebagai acuannya, di antaranya adalah lembaga-lembaga, sumber daya manusia dan riset, dan hasil-hasil infrastruktur, pengetahuan dan teknologi.

Hong Kong (Cina) dan Singapura mempertahankan posisi mereka di 10 peringkat global teratas, bersama-sama dengan Republik Korea, Jepang, Malaysia, dan Cina sebagai enam negara teratas untuk inovasi di Asia. Tiga pasar asia – Republik Korea, Jepang, dan Cina – juga memperoleh aplikasi paten terbanyak di 2013, sebagai hasil konkrit dari peningkatan investasi riset dan pengembangan. Berdasarkan laporan GII 2013 24 dari 25 negara teratas di index dunia mendapatkan keuntungan dari akses yang sangat mudah terhadap teknologi informasi dan komunikasi, yang menekankan semakin pentingnya peranan infrastruktur-infrastruktur TIK terhadap pusat-pusat inovasi yang tersebar secara global dan terhubung secara digital di abad ke-21 ini.

GII membuktikan bahwa saat ini inovasi bersifat global. Negara-negara yang masuk dalam peringkat 25 teratas di GII adalah campuran dari seluruh bangsa di dunia, mulai dari  Amerika Utara, Eropa, Asia, Oceania, sampai Timur Tengah. Walaupun negara-negara berpendapatan tinggi masih mendominasi, beberapa pemain baru telah meningkatkan kemampuan dan hasil inovasinya.

Profesor Soumitra Dutta, co-editor GII 2013 dan Anne and Elmer Lindseth Dean, dari Samuel Curtis Johnson School of Management, Cornell University mengatakan negara-negara berpendapatan tinggi rata-rata mengalahkan negara berkembang dengan perbedaan margin yang tinggi pada di semua kategori yang diukur menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan inovasi.

Bagaimana Negara dan Ekonomi Berkembang Dapat Memaksimalkan Kekuatan Mereka 

Berdasarkan tanda-tanda positif yang yang teridentifikasi oleh GII 2013, dari 18 negara berkembang yang mengalahkan prestasi negara-negara lainnya dalam kelompok pendapatan mereka,kami menemukan empat negara dari Asia Tenggara dan Oceania, yaitu Cina, Viet Namun, Malaysia dan Mongolia.

Tiap-tiap negara menunjukkan peningkatan taraf inovasi, dibandingkan negara lainnya dalam kelompok yang sama. Meskipun peningkatannya tidak sama, ini merupakan hasil penggabungan kebijakan yang baik, yang berlangsung di beragam bidang seperti institusi, keahlian, infrastruktur, integrasi dengan pasar global dan keterkaitan dengan komunitas bisnis.