Creative Design DKI Jakarta

Bukan lagi sebagai pasar, Indonesia kini tengah melangkan maju untuk memposisikan dirinya sebagai salah satu negara dengan industri kreatif digital berkembang baik di regional maupun internasional. Bukan katak yang bermimpi menjadi sapi, tapi capaian-capaian terakhir yang telah tercatat, menunjukkan potensi Indonesia untuk leading di dunia kreatif digital. Jakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia tentu diharapkan menjadi lokomotif bagi perkembangan ekonomi negara ini. Begitu pula dengan industri kreatif digital yang sebenarnya bukan hanya ada di Jakarta, tapi juga di nyaris seluruh wilayah perkotaan di Indonesia. Bukan tanpa komitmen, pemerintah daerah juga memiliki keinginan untuk mengembangkan segala potensi yang ada di wilayahnya termasuk industri kreatif. Namun keberadaan industri kreatif—terlebih lagi kreatif digital—yang belum terlalu lama dikenal, membuat banyak pemerintah daerah salah dalam membuat program pengembangan.

Untuk itulah kemudian laporan dari hasil riset ini dibuat sebagai bahan pertimbangan dan rekomendasi bagi Dinas Pariwisata dan Industri Kreatif DKI Jakarta yang memiliki komitmen untuk mengembangkan potensi industri kreatif digital di wilayah Jakarta Raya ini. Seperti yang kita ketahui, pemerintah sendiri juga sangat konsentrasi dalam melakukan upaya yang sama.

Melalui Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, dirancang berbagai program untuk terus mengembangkan dan memajukan industri kreatif di dalam negeri. Belum lama ini, Wakil Presiden Boediono, menjelaskan bahwa sekolah-sekolah kejuruan seyogianya dapat menjadi wahana pengembangan produk kreatif yang cukup pesat. Apalagi, pelaku usaha sektor industri kreatif ini di dominasi oleh anak muda. Produk industri kreatif, menurut Boediono, merupakan ketrampilan menghasilkan karya yang memadukan seni dan teknologi. Antara lain, produk fashion, musik, film, desain grafis, animasi, program software, dan lain-lain. Boediono meyakini bahwa 20 hingga 30 tahun ke depan, sektor ini bisa menjadi industri unggulan Indonesia dengan menyediakan produk-produk yang tak kalah bersaing di kancah internasional. “Tentunya, ini harus dibekali dengan sistem pendidikan yang cocok,” kata Boediono.

Sementara, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, menyatakan bahwa sektor industri kreatif memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, “Ekonomi kreatif menyumbang tujuh persen dari total PDB (produk domestik bruto) dengan nilai Rp642 triliun,” ujar Marie. Mari menambahkan, industri ini juga menyerap tenaga kerja di Indonesia terbesar keempat dengan 10,72 persen dari total 11,9 juta tenaga kerja nasional. Nilai ekspor produk industri kreatif pun mencapai US$12 miliar atau enam persen dari total ekspor Indonesia. “Ini didorong oleh 5,4 juta unit usaha dan menjadikannya sektor usaha terbesar ketiga di Indonesia,” kata Mari. Meskipun kebijakan mengenai industri kreatif masih terbilang muda, namun pertumbuhannya memang sangat signifikan dan terbilang cepat jika dibandingkan dengan sektor lainnya dalam dunia industri.

Disebutkan, Business Monitor International (BMI),bahwa sektor kreatif digital dinilai sebagai sektor yang paling cepat tumbuh dan berkembang. Prediksi yang diberikan oleh lembaga survey internasional mengatakan bahwa industri kreatif digital akan tumbuh 18% per tahun hingga 2015. Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan pasar teknologi informasi potensial di Asia Tenggara. Hasil diskusi dan pemaparan segenap narasumber kegiatan ini dirangkum dalam bagian ini. DKI Jakarta Lengkap dan Serba Ada Jika bicara apa yang sudah dimiliki DKI Jakarta terkait industri kreatif digital, maka jawabannya adalah semuanya sudah ada. Dalam riset yang dilakukan, terlihat ada paling tidak 176 pelaku industri kreatif digital di Jakarta dengan sebaran merata di kelima wilayah DKI Jakarta, kecuali Kabupaten Kepulauan Seribu yang memang tidak menjadi bagian dari riset ini. Absennya wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu bukannya tanpa alasan.

Menurut pemantauan awal kami, wilayah yang saat ini tengah maju lewat industri pariwisata tersebut memang tidak memiliki pelaku industri kreatif digital. Hal ini disebabkan oleh sulitnya akses menuju pasar dan ekosistem yang tentunya berada di wilayah induk Jakarta.

Dari gambaran ekosistem pengembangan industri kreatif digital, dapat dikatakan bahwa DKI Jakarta memiliki seluruh faktor yang ada di dalam ekosistem itu secara lengkap. Cukup banyak pelaku industri kreatif digital yang menjalankan bisnisnya di DKI Jakarta, mulai dari industri software, game, animasi, hingga software edukasi. Begitu juga dengan penghasil sumber dayanya, cukup banyak jumlah SMK, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan terkait industri kreatif digital di DKI Jakarta. Begitu juga dengan keberadaan inkubator bisnis, venture capital, komunitas, dan asosiasi yang memang sebagian besar memusatkan aktivitasnya di DKI Jakarta. Di Jakarta Pusat terdapat 45 pelaku industri kreatif digital yang berasal dari ke empat sektor yang menjadi objek riset. Sementara jumlah institusi pendidikan yang terkait dengan industri kreatif digital adalah lima sekolah SMK dan tujuh perguruan tinggi. Sayangnya tak satupun lembaga pelatihan yang berdomisili di pusatnya Jakarta. Jakarta Selatan terlihat sangat menonjol dalam segala hal terkait industri kreatif digital.

Ada 68 pelaku industri, 21 SMK, 12 Perguruan Tinggi, dan tujuh lembaga pelatihan. Jakarta Barat memiliki 34 pelaku industri, delapan SMK, sembilan Perguruan Tinggi, dan empat lembaga pelatihan. Kemudian Jakarta Timur dengan 17 pelaku industri, 35 SMK, 11 Perguruan Tinggi, dan lima lembaga pelatihan. Dan yang terakhir adalah Jakarta Utara. Ada 12 pelaku industri yang memilih berdomisili di wilayah pesisir Jakarta ini, sementara ada enam SMK, tigaPerguruan Tinggi dan hanya satu lembaga Pelatihan. Tim riset memang tidak melakukan penelitian lebih lanjut tentang alasan mereka memilih domisili, tapi tampaknya faktor kenyamanan yang mendorongnya. Fakta ini tampaknya harus diperhatikan betul oleh Pemerintah DKI dalam hal ini Dinas Parekraf. Tapi bisa ditarik sebuah kesimpulan dari seluruh ketersediaan tersebut, yang dibutuhkan adalah keterkaitan antar faktor, kolaborasi yang berkelanjutan, dan arah pengembangan yang sama. Peran tersebut yang perlu diambil oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta di tingkat Propinsi dan Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif di tingkat nasional.

Dengan demikian apa yang menjadi kendala dan harapan dari para pelaku di industri kreatif digital bisa terakomodir oleh yang berwenang. Mereka Berkendala, Mereka Berharap Mayoritas pelaku industri kreatif digital masih dalam kapasitas kecil atau yang dikenal sebagai startup. Karena kondisinya yang seperti itulah kemudian banyak kendala yang harus dihadapi oleh mereka. Hal yang paling menarik perhatian adalah permodalan sebagai kendala dan bantuan yang diharapkan dari pemerintah.

Kendala SDM ini memang tak mungkin jika dibebankan kepada Dinas Pariwisata semata. Karena secara kewenangan, yang memiliki wewenang terhadap kurikulum dan materi ajar dari sekolah adalah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan perangkatnya termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta. Di luar permasalahan tadi, masih ada beberapa persoalan yang dirasakan sebagai kendala yang akan menghambat gerak maju industri kreatif digital. Dan kami telah meramu semua kendala dan ekspektasi mereka terhadap program pengembangan yang akan dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta, melalui Dinas Pariwisata. Jawaban dari kendala dan harapan tersebut adalah hadirnya sebuah inkubator bisnis kreatif digital yang dikembangkan oleh Pemerintah DKI Jakarta, di mana program inkubator harus selaras dengan program Dinas Pariwisata. Inkubator inilah yang melakukan proses inkubasi terhadap calon wirausaha dengan memberikan pembinaan, pendampingan dan wawasan pengembangan bisnis. Persoalan dana permodalan ini juga pernah diungkap oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam satu kesempatan. “Setiap kali minta pinjaman ke bank, pasti diminta neraca perusahaan lima tahun ke belakang,” kata Hatta.

Memang pada kenyataannya, persoalan modal menjadi kendala yang kerap muncul di semua bidang industri kreatif—mungkin hanya pada industri software yang memang sudah lebih dulu tumbuh dan saat ini sudah banyak yang sukses dengan omset triliunan. Namun pada industri animasi dan game, permodalan masih menjadi isu yang hangat untuk diperbincangkan. Selain itu muncul pula keluhan akan minimnya kualitas SDM yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang terkait dengan industri kreatif digital. Padahal seperti yang telah disebutkan di atas, ada 39 Perguruan Tinggi, dan 75 sekolah SMK dengan jurusan yang terkait langsung dengan industri kreatif digital. “Sepertinya memang perlu perbaikan kurikulum di SMK, karena banyak anak SMK yang magang dalam kondisi tidak mengerti apa-apa,” ujar Andi Martin dari Main Studio.

Selain inkubator bisnis yang khusus bagi mereka yang terpilih, di tempat yang sama juga bisa dijadikan sebagai Creative Corner atau Collaboration Space atau apapun yang bersifat terbuka, nyaman dan kondusif untuk para pelaku industri kreatif digital beraktivitas atau bahkan hanya untuk sekedar duduk-duduk mencari inspirasi. Tentu bukan hanya sebatas itu. Kawasan tersebut nantinya juga diharapkan memiliki program coaching clinic, workshop dan agenda berbagi lainnya, termasuk galeri pamer bagi karya kreatif. Mungkin masih ada yang luput dari pengamatan tim riset dalam menyelami industri kreatif digital di Jakarta. Namun paling tidak, data yang terangkum saat ini bisa dijadikan acuan bagi para pemangku kepentingan untuk menentukan langkah apa yang akan diambil untuk mengembangkan industri kreatif digital di jakarta. Dengan paparan data yang ada, kita boleh sedikit berbesar hati karena menunjukkan adanya peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Jika mendorong industri kreatif digital dengan serius akan bisa mengatasi rendahnya pertumbuhan ekonomi, menekan tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan, serta rendahnya daya saing dalam negeri.