“Seharusnya kita bangga menjadi orang Indonesia. Orang Indonesia itu bisa kreatif meski tak difasilitasi oleh negara.  Lihat saja perfilman di Indonesia sudah bisa memasuki kancah internasional.  Jika diluar negeri film-filmnya, animasi hingga kualitas gambarnya bisa bagus karena memang negara mendukung pembuatan film,”tutur Ine Febriyanti.

Contoh kecil saja filmnya yang berjudul “Selamat Siang Risa” yang merupakan film kritikan buat pemerintah, dananya sangat minim. Hanya menggunakan satu kamera dan dibuat hanya dengan waktu 3 bulan. Namun bisa masuk ke perfilman Jerman. Karena film itulah ibu tiga orang anak ini bisa bersekolah film di luar negeri.

Ine bukanlah jebolan dari sekolah film, ia memang pernah membintangi film dan bermain teater namun ia tak pernah membuat film. Menurutnya untuk membuat film tak mesti harus sekolah formal, film ada fashion. Tak mesti juga harus menonton banyak film, justru akan mengcopy film orang lain ke film yang kita buat.

Menurutnya dalam membuat film sebaiknya menulis film tak mesti harus berimajinasi terlalu jauh. Jika ingin film yang dibuat menggugah orang banyak bukan hanya sebagai film komersial, lihatlah sekeliling. Maka kamu bisa membuatnya senatural mungkin. Boleh jadi kisah nyata semakin bagus jadinya film yang dibuat.

Sebenarnya film yang bagus itu tak mesti mahal dalam proses pembuatannya. Tapi yang namanya film bagus adalah film yang mampu menggugah bahkan mengubah fenomena sosial yang salah. Bandingkan jika kita menonton film The Iron Man dengan film Barbara. Setelah menonton film the Iron Man memang terasa animasinya namun tidak ada sensenya  untuk mengubah fenomena yang ada.