Mempelajari bahasa baru memang tidak akan mudah. Satu hal penting yang biasanya sering dilupakan oleh pelajar dalam mempelajari bahasa baru adalah kemampuan untuk mempraktikannya langsung dengan native speaker. LanguageTwin, sebuah perusahaan Start Up yang muncul dengan tujuan untuk menyediakan layanan mempermudah pembelajaran bahasa baru. Mereka menyatukan para pelajar bahasa untuk berinteraksi dan berhadapan langsung demi memberikan kesempatan untuk mempraktikan atau menerapkan ilmu yang telah mereka dapatkan di kelas dengan improvisasi langsung di kehidupan nyata.

Penting untuk dicatat, bahwa LanguageTwin bukanlah merupakan layanan gratis. LanguageTwin berencana untuk bekerjasama dengan perguruan tinggi dan sekolah-sekolah rakyat dan sekolah tersebut akan dikenakan biaya sebesar US$25-US$35 per term. Ide utama dari layanan ini adalah LanguageTwin akan memasangkan pelajar dari dua negara yang berbeda yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi satu sama lain melalui video chat. Untuk sementara ini, tim sedang fokus pada pelajar yang tertarik mempelajari bahasa Spanyol (Perancis, Jerman, Mandarin, dan bahasa lainnya) dan mereka telah menjalankan sejumlah tes dengan 5.000 pelajar dari 100 Universitas di Amerika Serikat, Spanyol, Meksiko, Kolombia, Panama, Chile, Kosta Rika dan sejumlah negara lainnya.

Sama seperti namanya, ide asli dibalik Language Twin adalah untuk mencari ‘kembaran’ bagi setiap pelajar yang berada di dalam sistem. Katakanlah anda sedang mempelajari bahasa Spanyol. LanguageTwin akan mempertemukan anda dengan pelajar di negara yang berbahasa Spanyol yang ingin mencoba belajar bahasa Inggris. Permasalahannya adalah, tidak mudah untuk mengkoordinasikan jadwal kedua pelajar ini secara bersamaan karena mereka tinggal di belahan dunia yang berbeda. Sistem ini lebih fleksibel karena jika ada kemungkinan bahwa ‘kembaran’ yang telah terpilih tidak dapat mengikuti sesi tatap muka, maka anda diberikan keleluasaan oleh sistem untuk menemukan ‘kembaran’ lainnya.

Keunikannya disini adalah bahwa guru dapat menggunakan sistem ini juga untuk menetapkan siswa/pelajar yang menggunakan LanguageTwin di setiap menitnya, hari atau bahkan setiap minggunya. Semua isi obrolan akan dicatat dan guru dapat memutarnya kembali di waktu luang mereka. Menurut Techcrunch, Founder dari LanguageTwin, Michael Lucia mengatakan kepada mereka, bahwa guru-guru yang telah menggunakan sistem ini juga memilih satu sesi acak LanguageTwin dari siswa mereka untuk dipergunakan sebagai kepentingan ujian lisan.

Video chat yang merupakan inti dari layanan ini juga dilengkapi kemampuan teks chatting, dan yang terpenting adalah layanan ini juga menyediakan alat terjemahan, selain itu ada folder dengan beragam tugas dan pertanyaan ice breaker untuk mendapatkan beberapa percakapan yang kurang terstruktur. 

Lucia juga mengatakan kepada Techcrunch bahwa, kerangka kerja yang digunakan sistem ini adalah untuk bertukar ilmu soal bahasa ditambah dengan kemampuan merekam mereka yang membuat LanguageTwin sangat berbeda dari hanya sekedar memulai percakapan biasa seperti yang diberikan oleh layanan Skype. 

Dengan adanya layanan ini diharapkan, pertukaran ilmu dalam mempelajari bahasa asing akan lebih mudah diterima oleh para pelajar di seluruh dunia.