CEO Twitter, Dick Costolo, telah berhenti dari posisinya sebagai Direktur di Inggris, tepat beberapa hari setelah anak perusahaan Twitter yaitu TweetDeck Inggris dibubarkan sebagai bisnis terpisah oleh Bisnis Registrar Companies House, menurut Sky News. Menurutnya, mereka juga telah meminta Twitter untuk memberikan konfirmasi dan komentar terkait permasalahan ini dengan respon apapun.

Kemunculan pemberitaan mengenai kemunduran Castolo dari perannya sebagai Direktur di Inggris berkaitan dengan pembubaran TweetDeck: Start Up Ingris yang mengakuisisi Twitter pada Mei 2011 untuk harga sebesar US$ 40 juta. Akhir tahun lalu, TweetDeck gagal dalam pengajuan akunnya di Inggris dengan Companies House, dan terus-terusan gagal dalam pengajuan yang akhirnya menyebabkan pembubaran perusahaan sebagai entitas yang terpisah pada awal bulan ini, 7 Mei.

Kegagalan TweetDeck dalam mengajukan akun adalah bagian dari proses untuk melambungkan statusnya sebagai entitas perusahaan terpisah bagi perusahaan induknya. Pada awal bulan ini seorang juru bicara Twitter mengatakan kepada Guardian: “Produk TweetDeck sebagian terus berkembang sebagai bagian dari Twitter, namun perusahaan lama sudah tidak aktif untuk beberapa waktu, dengan tidak ada kewajiban luar biasa, maka kami sepakat dengan membubarkannya.”

Setelah TweetDeck menjadi bagian dari Twitter, dengan pengembangan produk dan proses bisnis lainnya yang bergerak di dalamnya, kemungkinan tidak ada lagi kebutuhan sebagai bisnis mandiri Inggris, karena itu, bahwa pergeseran itu juga menjelaskan Costolo mundur dari peran sang Direktur Inggris. Pengunduran dirinya terjadi pada tanggal 9 Mei, menurut Sky News.

Para media melaporkan bahwa posisi Castolo telah digantikan oleh seorang akuntan ‘carteran’ asal Dublin, Laurence O’Brien. Seperti yang terlihat sangat jelas di sini, bahwa tujuan utama bisnis Twitter di Inggris kini adalah meminimalkan kewajiban pajaknya, dengan pembangunan yang dikaitkan dengan TweetDeck saat ini digulung menjadi bisnis utamanya. Kedua Direktur Twitter Inggris lainnya, Alex Macgillivray, Twitter General Counsel & Head of Trust and Policy, serta COO, Ali Rowghani, bertahan di posisi mereka.

Merujuk pada pembubaran TweetDeck dan kemunduran Costolo dari posisinya, ada sedikit keraguan bahwa Twitter tetap berkomitmen pada produk-produk mereka. Meskipun baru-baru ini Twitter menutup versi yang berbasis AIR dari klien Twitter dan aplikasi mobile tertutup, itu berfokus pada pengembangan aplikasi berbasis web TweetDeck. Kembali pada bulan Maret, Twitter mencatat bahwa TweetDeck telah menggandakan personelnya dalam enam bulan terakhir.

Sky News mencatat, bahwa Twitter mengontrol perusahaan Inggris melalui anak perusahaan Irlandia yang dikenal sebagai Twitter International Company Ltd dan sementara Twitter telah memperbanyak jumlah pegawai staff di perusahaan London dan kantor Dublin ini dengan tujuan untuk mendorong dan membangun sebuah tim penjualan multinasional untuk Eropa, ketimbang hanya menjadi pengembang produk terkait.