Pada hari Senin lalu, Apple mengalami masalah hutang pertamanya, pengarsipan dokumen menggambarkan rencana penjualan obligasi yang akan digunakan untuk membayar dividen dalam upaya untuk membendung penurunan saham.

“Kami mungkin akan menawarkan penjualan surat hutang ke dalam satu atau lebih penawaran setiap waktu,” ungkap perusahaan teknologi raksasa ini dalam sebuah dokumen yang disampaikan kepada Securities and Exchange Comission.

Eksekutif Apple menjelaskan rencana mereka pekan lalu ketika perusahaan melaporkan hasil kuartal, yang mengindikasikan bahwa perusahaan akan menghabiskan US$ 100 Miliar untuk pembelian kembali dan dividen dalam rangka meningkatkan nilai pemegang saham.

Pembuat iPhone dan iPad masih memiliki cadangan tunai minimal sebesar US$ 145.000.000.000, berdasarkan pengungkapan saldo labanya yang terbaru. Namun kebanyakan dari mereka berada di luar Amerika Serikat, dan pengembalian uang tersebut akan menyebabkan pajak yang sangat besar berdasarkan hukum Amerika Serikat saat ini.

Pada minggu lalu, Standard & Poor mengatakan akan memberikan nilai obligasi Apple AA+ dan Moody mengindikasikan akan memberikan nilai kepada mereka Aa1. Lembaga rating mengatakan bahwa mereka tidak akan memberikan nilai kelas atas AAA karena perubahannya di sektor ini sangat cepat dan tidak stabil.

Apple telah membukukan laba sebesar US$ 9.500.000.000 dari pendapatan sebesar US$ 43.6 Miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan US$ 11.600.000.000 dari pendapatan US$ 39.200.000.000 di tahun sebelumnya. Angka penjualan kuartal tumbuh dari penjualan iPhone yang meningkat ke angka 37,4 juta dari 35,1 juta pada tahun sebelumnya dan juga iPad yang melonjak ke angka 19,5 juta dari 11,8 juta.

Beberapa analis mengatakan bahwa perusahaan sedang mengalami krisis pasar dimana tertutupnya produk dari kompetitor sejenis.

“Apple telah melakukan kesalahan yang fatal seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Nokia dan Motorola, dengan tidak mengeluarkan upgrade yang cukup inovatif dan berarti, biasanya ketika perusahaan teknologi telah kehilangan kekuatan mereka, mereka jarang sekali mendapatkannya kembali.”