Era R.A Kartini puluhan tahun lalu, surat menjadi alat komunikasi paling populer saat itu. Karena surat menyurat dengan kawan-kawannya di Belanda lah Kartini menunjukkan pemikirannya yang revolusioner. Kini setelah surat sudah tergusur dengan teknologi informasi, Kartini-Kartini baru muncul dan mengadopsi TI.

Hal inilah yang menjadi latar belakang bagi Kementrian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menyelenggarakan Kartini Next Generation Award 2013. Penghargaan yang mengambil tema “Inspiring Woman in ICT” ini memberikan apresiasi kepada para wanita yang bergerak dibidang TI.

Menurut dewan juri, award ini menghadirkan beberapa kategori. Mulai dari education, enterepreneurs, creative studio, community development dan special award. Dari 40 peserta yang mendaftar, panitia pun menyeleksi hingga menjadi 11 orang finalis. Dari sebelas orang finalis inilah yang akhirnya dipilih masing-masing satu orang untuk setiap kategori.

Septi Peni Wulandari, seorang ibu rumah tangga yang melakukan teleconference untuk edukasi bagi ibu-ibu disekitarnya berhasil merebut kategori education. Sementara untuk enterpreneurs diraih oleh Stefanie Kurniadi yang mendirikan komuniatas kuliner bernama “pecinta perut”. Adiska Fardani, alumni ITB ini berhasil merebut kategori creative studio. Karyanya berupa software bernama “no limits” berhasil merebut penilaian tinggi dari para dewan juri. Untuk kategori community development, Nila Tanzil yang merupakan seorang diver sekaligus pendiri taman bacaan pelangi di 25 titik di Indonesia Timur berhasil keluar sebagai pemenang. Terakhir, special award diberikan kepada Angkie Yudistia yang membantu anak-anak difabel untuk meraih pendidikan yang sama serta Aulia Halimatussadiyah yang menjadi pelopor self publishing.