Huawei, perusahaan pembuat peralatan telekomunikasi terbesar kedua setelah Ericsson, menyatakan bahwa perkembangannya tahun ini di Amerika Serikat akan terhambat terkait persoalan keamanan nasional. Namun Bob Cai, Wakil Presiden di cabang Cina yang bertanggungjawab mengurusi pemasaran jaringan wireless, mengatakan bahwa menurut Jurnal Wall Street, Huawei masih memiliki harapan pada bisnis kunci di jaringan wireless di wilayah Eropa dan Asia.

Huawei telah mengalami dua kemunduran besar di Amerika Serikat selama hampir setengah tahun belakangan ini. Pada bulan Oktober lalu, laporan anggota kongres Amerika menyatakan bahwa pengadaan peralataan dari Huawei dan ZTE untuk infrastruktur penting Amerika Serikat dapat mengganggu bahkan merusak kepentingan nasional Amerika Serikat. Kemudian minggu lalu, Sprint Nextel dan SoftBank telah berjanji tidak akan menggunakan perangkat dari Huawei setelah ikut berkonsolidasi.

Huawei sedang memperhitungkan pasarnya di luar negeri sebaik pasarnya di Cina, untuk perkembangan pendapatannya. Pada tahun 2011, bisnis jaringan wireless Huawei tercatat mendapatkan 45.91 Milyar yuan (setara dengan sekitar 7.4 Milyar USD) yang juga berarti 23% dari total pendapatan perusahaan yang berkisar 203.93 Milyar yuan. Dan Indonesia merupakan pasar terbesar mereka dari seluruh pasar luar negerinya yang tersebar di Eropa Barat dan Asia. Di Eropa sendiri, menurut penuturan Cai kepada Jurnal Wall Street bahwa Huawei telah membangun kepercayaan kepada operatornya.

Seperti rivalnya yang lebih kecil ZTE, Huawei juga telah mengelompokkan pertumbuhan domestik pada jaringan LTE yang baru lahir di Cina. Tiga operator mobile terbesar di China—China Mobile, China Telecom, dan China Unicom—kesemuanya sedang sibuk membangun infrastruktur LTE-nya. Dan secara bersamaan, ketiga perusahaan tersebut akan menghabiskan sebanyak 345 Milyar yuan (56 Milyar USD) dalam memperluas jaringan 4G nya tahun ini. Cai juga menyatakan kepada Jurnal Wall Street bahwa tahun lalu Huawei menghasilkan 1 Milyar USD pendapatan dari bisnis jaringan LTE, perusahaannya mengharapkan untuk melipatgandakan pendapatan tersebut hingga tembus angka 2 Milyar USD tahun ini.

Secara keseluruhan, Huawei mengharapkan mobile infrastrukturnya akan mampu berkembang setidaknya 10% pada tahun ini, setelah pertumbuhan sebesar 11% pada tahun 2012. Terlepas dari hambatan akan kepentingan keamanan Amerika Serikat, pesaing Huawei seperti Ericsson juga sedang mengalami masa-masa sulit dalam beberapa tahun terakhir dikarenakan iklim bisnis yang memburuk.