Berbicara inovasi, banyak sekali inovasi yang sudah tercipta dari tangan anak bangsa. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi Indonesia melahirkan berbagai inovasi-inovasi tersebut. Namun, sayangnya dari inovasi itu khususnya teknologi masih sedikit yang bisa “dikawinkan” dengan industri. 

Wakil Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) yang juga anggota dari Komite Inovasi Nasional (KIN), Betti Alisjahbana menuturkan bahwa mensinergikan inovasi dengan industri merupakan tantangan yang harus dilalui.

“Ada beberapa hal yang memang ekosistem ini belum terbentuk sehingga masih tersendatnya inovasi yang bisa diadaptasikan oleh industri. Seperti adanya masalah dana riset yang belum memadai jika dibandingkan dengan negara-negara lain,” tuturnya saat menghadiri acara Ganesha Innovation Championship Awards (GICA) 2013 di ITB, Bandung.

Selain dana riset, kurangnya fasilitas untuk mempertemukan antara innovator, industri, dan pemerintah pun masih jadi kendala. Idealnya, menurutnya, harus ada tempat untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara ketiganya atau dikenal dengan techno park

“Maka dari itu, KIN mengusulkan untuk dibentuknya Bandung Raya Innovation Valley. Didirikannya di Bandung, karena di kota ini banyak perusahaan-perusahaan teknologi. Nah dari situ, kita mengharapkan terbentuknya ekosistem yang bisa mewadahi pihak-pihak tersebut untuk berinteraksi. Dan kita pun mengusulkan ada insentif,” terangnya. 

Terpisah, menurut I Gede Wenten penemu membran filtrasi sekaligus pemenang dalam acara GICA 2013 mengatakan bahwa innovator di Indonesia harus mampu menciptakan sesuatu yang mempunyai nilai tambah untuk pasar. 

Dia pun berpendapat bahwa untuk melakukan riset sesuai dengan kebutuhan pasar memang tidak mudah, maka dari itu lebih baik para periset sebaiknya harus mempunyai pasar terlebih dahulu sehingga memahami juga kondisi pasar saat ini. 

“Bila perlu orang yang melakukan riset itu, sebaiknya orang yang punya pasar. Jadi nyambung antara permintaan pasar juga,” ujar Wenten.