I Gede Wenten akhirnya berhasil mengungguli empat orang finalis lainnya dalam gelaran Ganesha Innovation Championship Awards (GICA) 2013, yang diadakan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB) hari ini (8/02). Inovator yang mengembangkan dan memiliki paten teknologi membran untuk penjernih air ini berhasil mencuri perhatian kelima orang juri, yang datang dari berbagai sektor, yaitu Hanung Budya (Pertamina), Jusman Syafii Djamal (Telkom), Marzan Aziz Iskandar (BPPT), Ninok Leksono dari Komite Inovasi Nasional (KIN) serta Prof. Wawan Gunawan (Wakil Rektor ITB).

“Inovasi itu harus berbasis knowledge. Sehingga kita bisa men-create nilai tambah dari sana,” ungkap sang jawara, I Gede Wenten.

GICA sendiri merupakan penghargaan untuk alumni ITB yang berhasil melakukan pengembangan masyarakat – baik sosial, ekonomi maupun budaya – dengan inovasi yang dimilikinya dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut.

“Ajang ini sebagai usaha Ikatan Alumni ITB mendorong semakin banyak peran serta alumni ITB dalam berinovasi dan melakukan pengembangan masyarakat, memberikan semakin banyak manfaat untuk masyarakat,” ujar Indra Utoyo, Pengurus IA ITB yang juga menggagas kegiatan ini.

Penghargaan yang mengangkat tema “Innovation for Society” ini dimulai dengan tahap screening yang berhasil memilih 20 orang kandidat. Setelah melewati proses seleksi administrasi, akhirnya terpilihlah lima orang finalis yang dianggap memiliki karya paling mumpuni.

Selain medali emas, IA ITB juga menganugerahkan medali perak dan perunggu berdasarkan penilaian para juri. Medali perak direbut oleh Ridwan Kamil dan I Gusti Made Arsawan. Ridwan Kamil, alumni Teknik Arsitektur ITB angkatan 1990,  mendapat apresiasi juri atas keberhasilannya menginisiasi berbagai gerakan komunitas untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, seperti Indonesia Berkebun, Bandung Creative City, hingga gerakan berbagi sepeda yang dikenal dengan nama Bike.bdg.

“Seharusnya inovasi-inovasi yang dilakukan adalah yang menyangkut permasalahan orang banyak. Bukan hanya inovasi menara gading, “ tutur Ridwan Kamil. Ia menambahkan, bagi generasi muda tidaklah cukup hanya menjadi cerdas, tapi juga dibutuhkan kepedulian terhadap masyarakat luas.

Sedangkan peraih medali perak lainnya, I Made Arsawan mengembangkan Tenun Patra, sebuah teknik dan desain tenun berlandaskan kekayaan budaya kriya asli Bali. Komitmennya untuk melibatkan masyarakat dalam produksi tenun dinilai sangat bermanfaat.

Dua medali perunggu yang tersisa direbut oleh Iskandar Budiarso Kuntoadji dan Andrias Wiji Setyo Pamuji. Iskandar Kuntoadji, yang juga pendiri Yayasan Institut Bisnis Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), datang dengan inovasinya berupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Bersama sang istri, Iskandar telah mengimplementasikan  inovasinya di lebih dari 60 desa di tanah air, dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi dalam negeri.

Sementara itu, Andrias Wiji dikenal sebagai pengembang reaktor biogas yang membantu banyak petani untuk membangun biogas sederhana. Implementasinya sudah dilakukan di berbagai daerah, antara lain di Ciater Subang, Lembang, Pengalengan, Bojonegoro, Sampang Madura, Ngawi, dan Kebumen.

Jusman Syafii Djamal, Komisaris PT Telkom yang turut menjadi juri menyatakan acara seperti ini sangat penting untuk menjembatani antara inovasi dengan bisnis.

“Inovator di Indonesia itu banyak. Boleh dikatakan orang kreatif di Indonesia itu sangat banyak. Tapi sayangnya ekosistemnya belum terbangun,” jelas Jusman.