Setelah terpilih untuk yang kedua kalinya, Presiden USA, Barrack Obamabama berjanji akan memangkas impor minyak hingga separuh pada tahun 2020. Obama juga akan menghentikan subsidi bagi industri minyak. “Saya tidak akan membiarkan perusahaan-perusahaan minyak mengatur kebijakan energi negara ini atau membahayakan lepas pantai kita atau meraup untung hingga US$4 miliar dari para wajib pajak,” tutur Obama. 

Sebelumnya Obama juga pernah menyatakan komitmennya terhadap green energy. “Saya percaya bahwa jika kita ingin memiliki kontrol terhadap energi masa depan, maka kita harus berinvestasi pada pengembangan energi matahari, angin dan biofuel. Maka menjadi masuk akal jika kita juga menerapkan standar efesiensi bahan bakar yang ketat pada kendaraan bermotor,” ujarnya pada sebuah pertemuan dengan para donor, Oktober 2012 silam. 

Tampaknya kebijakan penggunaan energi terbarukan di USA tidak akan berjalan lancar. Baru-baru ini sebuah pengadilan banding federal, menyatakan bahwa aturan penggunaan energi terbarukan pada bahan bakar bagi mobil dan truk tidak realistis dan sulit untuk dicapai. “Kebijakan ini cenderung didasarkan pada angan-angan saja” seperti yang dilansir oleh NYtimes.com. Keputusan yang dikeluarkan oleh United States Court of Appeals for the District of Columbia ini dikeluarkan setelah kasus biofuel selulosa ini diperkarakan oleh American Petroleum Institute yang terikat pada kewajiban kuota penggunaan biofuel yang telah ditetapkan dalam aturan tentang penggunaan energi terbarukan.

Produksi dan penggunaan biofuel dalam konsumsi bahan bakar bagi transportasi, menjadi target dari pemerintahan Obama dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Sayangnya antara quota dengan jumlah produksi belum berimbang. Padahal Environtmental Protection Agency (EPA) secara bertahap telah mensyaratkan penggunaan biofuel yang lebih tinggi pada kendaran bermotor.

Direktur Hilir dan Operasi Industri American Petroleum Institute, Bob menyambut baik keputusan tersebut, mengatakan bahwa struktur penetapan kuota tersebut cacat. “Tidak ada tanggung jawab atau akuntabilitas pada mereka yang memproduksi bahan bakar,” ujar Bob menanggapi pertanyaan soal perusahaan biofuel.

Kendati demikian, beberapa perusahaan besar telah menginvestasikan puluhan juta dolar dalam pembangunan proyek biofuel berskala komersial. Tahun lalu, dua perusahaan mengatakan mereka telah memulai proyek tersebut dan hamper pada tahap produksi. KiOR, salah satu dari dua perusahaan, pada Jumat, 1 Februari lalu menyatakan bahwa mereka telah menjual 1.024 galon bahan bakar diesel pada bulan Desember yang diproduksi di pabriknya di Columbus, Mississippi, tetapi itu bisa tidak memberikan tambahan angka pada laporan keuntungan perusahaan mereka.