Badan Energi Internasional atau IEA memprediksikan jumlah air bersih yang dikonsumsi untuk produksi energi di dunia meningkat dua kali lipat dalam 25 tahun ke depan. Maka dari itu harus ada solusi atas permasalahan ini. Jika tidak ditanggulangi, IEA menghitung bahwa air yang dikonsumsi untuk produksi energi akan meningkat dari 66 miliar meter kubik sampai 135 miliar kubik pada 2035. Jumlah itu sama dengan penggunaan air setiap rumah di Amerika Serikat selama tiga tahun. Penggunaan air untuk energi tersebut, menurut IEA didominasi oleh industri biofuel dan batu bara. 

Namun, proyeksi dari IEA tersebut di tantang oleh beberapa industri biofuel. Mereka menganggap prediksi IEA terlalu berlebihan mengenai hal itu. Akan tetapi banyak pakar yang menyetujui pendapat IEA ini. Berdasarkan pemberitaan dari National Geographic, para pakar pun melihat dan telah mengumpulkan data yang menunjukan penggunaan air bersih yang massif untuk produksi biofuel. 

Untuk batubara, IEA melihat adanya dorongan permintaan terbesar untuk air sekarang dan di masa depan. Sebab dalam batubara memiliki potensi kehilangan lebih banyak air untuk penguapan dalam proses pendinginan.

“Energi dan air sangat berkesinambungan,” kata The Global Water Policy Project and National Geographic’s Freshwater Fellow, Sandra Postel. “Dibutuhkan banyak energi untuk memasok air dan banyak air untuk memasok energi,” lanjutnya.

Sementara itu, mengingat proyeksi PBB pada tahun 2025 tren yang mengkhawatirkan adalah ketika 1,8 miliar orang akan tinggal di daerah dengan kelangkaan air yang parah dan bahkan dari dua pertiga  penduduk dunia hidup di bawah kelangkaan air bersih.