Raksasa teknologi asal Korea—LG Electronics—nampaknya sedang mengalami masa-masa sulit. Jatuhnya keuntungan pada penjualan TV hingga 1/10 dari tahun sebelumnya membuat laba perusahaan ini turut terpuruk.  Tidak hanya akibat angka penjualan TV yang merosot, nilai tukar mata uang Won Korea yang menguat juga turut menurunkan pendapatan LG.

Laba penjualan LG pada periode Oktober-Desember 2012 memang naik 25% menjadi sekitar ₩ 107 miliar, tapi angka ini jauh dari perkiraan para analis di kisaran  ₩ 151 miliar. Di lantai bursa, saham LG juga cenderung stagnan 3 bulan terakhir.

LG mengatakan margin keuntungan di bisnis TV menurun menjadi 0,3% dari 0,8% pada kuartal sebelumnya dan 5,7% pada kuartal kedua. Melonjaknya biaya promosi serta persaingan ketat dengan perusahaan asal Jepang—yang jelas lebih diuntungkan dengan nilai tukar mata uang Yen—membuat LG sedikit mengalami turbulensi.

Pada bulan Desember, Komisi Eropa bahkan mendenda enam perusahaan termasuk LG, Philips, Panasonic dengan total 1,47 miliar euro, akibat praktek kartel pengaturan harga tabung CRT TV selama hampir 1 dekade. LG sendiri harus menggelontorkan tak kurang dari 295,6 miliar euro guna membayar denda ini.

Untuk menyiasati anjloknya penjualan TV, LG pun turut menyasar pasar high-end smartphone. Pada kuartal keempat LG berhasil menjual 15,4 juta handset, dengan nilai bisnis hingga 55 miliar won.

Guna meningkatkan persaingan penjualan TV, LG siap meluncurkan generasi TV terbaru dengan dimensi 55 inci yang menggunakan teknologi OLED. Teknologi ini membuat TV semakin tipis tapi tetap hemat daya.

Saat ini LG memiliki 18% pasar TV global, masih kalah dari pesaingnya Samsung Electronics Co yang memiliki sekitar 21% dari pasar. Sementara perusahaan asal Jepang seperti Sony Corp, Panasonic Corp dan Sharp Corp memiliki bagian hingga 30% pasar TV global.