Tantangan perubahan iklim memang dialami semua pihak. Di berbagai belahan dunia, jutaan petani yang sangat menggantungkan diri pada cuaca tentu sangat kerepotan mengatasinya. Di Amerika bencana kekeringan telah mengurangi hasil panen para petani.

Tantangan perubahan iklim ini memang sedang disiasati oleh ilmuwan di seluruh dunia. Salah satunya adalah kontribusi ilmuwan di Michigan State University yang telah menemukan alat baru yang inovatif bagi petani. Alat baru ini tidak hanya mengatasi dampak kekeringan sekaligus meningkatkan hasil panen.

Alvin Smucker, seorang peneliti di sebuah lembaga penelitian AgBioResearch MSU tengah memimpin pengembangan membran retensi air bawah tanah yang telah terbukti meningkatkan produksi sayuran di musim kemarau.

Membran ini adalah sebuah kaca film berkontur yang dapat ditempatkan di bawah zona akar tanaman untuk membantu menahan air dalam tanah, sekaligus juga memungkinkan untuk drainase yang tepat dan pertumbuhan akar. Pengujian menggunakan membran retensi air bawah permukaan baru telah menunjukkan bahwa hasil panen untuk mentimun naik 145% dari bidang kontrol tanpa membran, dan hasil panen jagung meningkat sebesar 174%.

“Teknologi ini memiliki potensi untuk mengubah kehidupan dan bentang alam kering seperti tanah berpasi, mengurangi jumlah irigasi tambahan, melindungi pasokan air tanah, dan memungkinkan penggunaan yang lebih efisien atas pupuk dan pestisida, ” ujar Smucker.

Menurut MSU, teknologi baru ini dapat digunakan pada berbagai tanaman, termasuk bahan baku biomassa selulosa, tanaman produksi bahan bakar, dan meningkatkan produksi di lahan marjinal. Tim peneliti juga menyelidiki kemungkinan menggunakan membran baru untuk meningkatkan produksi pangan sebagai bantuan untuk upaya bantuan kelaparan di daerah-daerah lain di seluruh dunia.