Tak henti-hentinya penelitian tentang sumber energi terbarukan terus ditingkatkan. Mulai dari energi angin sampai bioenergi. Bagi mereka yang meneliti sumber terbarukan ini, merasa penting untuk terus bereksperimen mengenai hal ini. Salah satunya Institut Teknologi Stevens, AS. Dengan diketuai oleh Dr Adeniyi Lawal, Sekolah tinggi tersebut, seperti yang dilaporkan dalam RenewableEnergy Magazine, direncanakan akan menggali lagi penelitian secara mendalam tentang mikroalga sebagai sumber biofuel. Dana penelitian tersebut didapatkan oleh hibah dari Departemen Energi AS sebesar USD650.000. 

Saat ini bisa dikatakan bahwa bahan baku pembuatan biofuel masih didominasi jagung. Sementara, peningkatan permintaan akan makanan dan minuman terus melambung.  Dan tentunya harga jagung terus meroket, menaikkan harga secara signifikan untuk makanan dan bahan bakar. Karena itu Tim peneliti mengembangkan teknologi transformatif yang mengubah pasokan terbarukan dengan alga dan di lain pihak harga bisa kompetitif serta hasil yang berkualitas. 

“Amerika Serikat saja mengkonsumsi sekitar 140 milyar galon bensin per tahun, jelas non-pangan biofuel bahan baku biofuel harus dikembangkan untuk meringankan tekanan pada produksi pangan” kata Dr Michael Bruno, Dekan Charles V. Schaefer , dari Jr. School of Engineering and Science. Dengan implikasi global seperti itu, lanjutnya, mengurangi ketergantungan pada minyak asing dan metode produksi yang efisien bahan bakar hijau. Maka dari itu, menurutnya penelitian yang akan dilakukan ini sangat penting guna mengetahui potensi alga secara mendalam. 

Konsep yang akan mereka lakukan adalah dengan mengusulkan proses komersial baru untuk mengkonversi mikroalga ke diesel dalam tiga langkah. Pertama, minyak alga diekstrak dari mikroalga. Minyak tersebut kemudian dimurnikan dari logam dan metaloid supaya bersih. Tanpa pendekatan pre-pemurnian yang unik, tingginya tingkat kontaminan dalam minyak alga mentah dengan cepat akan menonaktifkan katalis, sehingga mustahil untuk mengkonversi ke green diesel. Langkah terakhir adalah proses yang disebut hydrodeoxygenation, di mana hidrogen ditambahkan ke minyak alga dimurnikan untuk menghilangkan oksigen, menciptakan diesel dengan hasil sampingan air bersih (H2O).

“Seluruh proses adalah CO2 netral, membuat mikroalga berbasis diesel lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil berbasis-diesel,” kata Dr Lawal. “Karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis diambil dalam mikroalga, dan kembali ke atmosfer ketika produk diesel akhir diubah menjadi CO2 melalui pembakaran,” lanjutnya.

Di samping itu, sebuah analisis ekonomi awal menunjukkan bahwa menggunakan mikroalga sebagai sumber biofuel pada skala-besar akan lebih murah dibandingkan berasal dari petroleum diesel. Hanya 35.000 barel per hari dari diesel dari mikroalga, biaya produksi sekitar USD2,80 per galon, yang kompetitif dengan minyak bumi berbasis diesel. Mari kita tunggu kapan mikroalga bisa digunakan dalam skala besar dan bagaimana dengan sisi keekonomiannya.