Akhir-akhir ini, serangan hacker terhadap situs-situs bisnis dan pemerintahan di berbagai belahan dunia semakin marak. Anonymous misalnya, sekolompok hacktivis ini cukup aktif dalam menjebol banyak situs di berbagai belahan dunia. Dalam kasus penyerbuan Israel atas Gaza, Anonymous dengan gencar meretas situs-situs pemerintahan Israel.

Bentuk-bentuk peretasan ini memang bermacam-macam. Salah satunya yang cukup mengkhawatirkan adalah Distributed Denial of Service (DDoS). Serangan ini akan membuat situs-situs korban down dan bahkan bisa berakibat pada hancurnya database.

Melihat fenomena ini, Fortinet—sebuah perusahaan penyedia perangkat keamanan jaringan asal Amerika—berinisiatif meluncurkan produk terbarunya FortiDDos. Daniel Hadi, Technical Consultant Fortinet menuturkan, selama ini terdapat empat cara menanggulangi serangan DDoS.

Pertama, ISP managed scrubbing service. Kedua, cloud scrubbing service. Cloud dan ISP service untuk mencegah DDoS biasanya disediakan oleh provider jaringan, dengan harga yang relatif mahal. Ketiga, firewall/IPS. Terakhir adalah dengan cara dedicated atau memasang perangkat antara router dan firewall. Sampai saat ini, FortiDDoS merupakan satu-satunya perangkat yang dapat diaplikasikan pada dedicated. Dengan cara ini, biaya untuk mencegah DDoS menjadi lebih murah.

“Dengan menggunakan FortiDDoS, harga yang harus dikeluarkan pelanggan lebih murah 30% daripada memanfaatkan jasa provider,” ujar Jeremy Andreas, Country Sales Fortinet.

Untuk saat ini, Fortinet merilis FortiDDoS dalam tiga tipe. FortiDDoS-100A, FortiDDoS-200A dan FortiDDoS 300-A. Berapa harga yang ditawarkan? Karena menyasar kelas enterprise dan government, harga perangkat ini memang cukup mahal. Yaitu sekitar US$ 45.000-US$ 100.000.