Hobi memotret tapi tak sempat ikut kursus fotografi, membuat Founder sekaligus CEO PT Ayofoto Media International, Dibya Pradana terpaksa belajar otodidak untuk memuaskan hasrat hobinya itu. Namun di tengah keasyikannya belajar fotografi, ia melihat ada kekurangan untuk memamerkan hasil jepretannya. 

“Fotografer itu narsis. Jadi perlu sebuah media untuk memamerkan hasil karya mereka,” ungkap Dibya. 

Tepatnya tujuh tahun silam di bulan September 2005, dia membuat sebuah media untuk para fotografer. Waktu itu, katanya, sedikit sekali web lokal yang fokus di fotografi. Sehingga hal itu menggelitik nalurinya untuk membuat media untuk saling memberikan tips dan memamerkan hasil karya foto di antara fotografer.  

“Sebetulnya ini proyek iseng-iseng, karena memang saya melihat web lokal untuk share hasil karya fotografer masih sedikit  mungkin bisa dikatakan tidak ada. Nah, di September 2005 itu kita launching, tapi ya launchingnya itu gak ada sesuatu yang menarik, karena saya pun masih bekerja dengan orang lain. Dan animo dari masyarakatnya pun bagus, karena mungkin mereka melihat desainnya agak berbeda. Pada saat itu jujur saja desainnya sangat simple, tulisan gede dan desainnya clean,” ujar pria yang dulunya bekerja sebagai IT . 

Setahun berdiri, user sudah mencapai angka 10 ribu. Dengan animo yang besar di tahun itu, barangkali angka tersebut tidak terlalu fantastis jika dibandingkan di tahun sekarang di mana media sosial sudah menjamur seperti Facebook dan lain sebagainya. Tapi mungkin bisa dikatakan tidak masuk akal ketika tidak ada marketing namun user pada saat itu sudah mencapai angka 10 ribu. 

“Kalau saat ini, sudah ada media sosial seperti Facebook dan lainnya mungki angka 10 ribu tidak terlalu hebat. Di lain itu, memang gak ada marketingnya sama sekali. Dan saya pun gak ada effort saat itu memasarkannya. Saya juga heran, orang-orang tahu darimana. Rupanya animo ini terjadi karena para fotografer haus akan social media untuknya yang bisa mengakomodir karya-karya mereka. Itu suatu daya tarik tersendiri buat mereka. Jadi mungkin Ayofoto terbentuk di waktu yang tepat,” tuturnya. 

Walaupun demikian, saat itu Ayofoto belum menjadi sebuah badan hukum yang resmi. Pada 2011, perusahaan yang dipimpinnya sah menjadi PT Ayofoto Media International. Namun, sebelum menjadi badan resmi yang independen, Ayofoto masuk dalam kategori produk usahanya di bawah naungan PT Jejala Pararta International yang juga miliknya.

Pada awal berdiri, Ayofoto belum dijadikan sebuah bisnis jual beli foto. Baru di 2009 bisnis jual beli foto pun dilakukan. Model bisnis yang sedang ia lakukan adalah dengan menjual foto secara volume bukan per karya. Ia melanjutkan, bahwa tantangan di bisnis jual beli foto secara volume adalah mengubah mindset dari para fotografer yang ingin setiap karyanya dijual mahal.

“Tantangannya mengubah mindset para fotografer untuk beralih dari jual per karya dengan volume. Saat ini di luar negeri pun demikian. Kalau dikalkulasi hasilnya akan lebih dari jualan per karya. Misalnya saja, per volume itu harganya Rp100 ribu tapi yang beli karya itu ada 1000 orang. Dijumlahkan saja hasilnya,” terangnya.  Mengenai modal yang dikeluarkan, ia pun menjawab sekitar Rp25 juta. Dan saat ini perkembangan omzet per tahun sekitar 20-25%. “Per bulan bisa saya perkirakan 40.000 foto transaksi,” tutupnya.