Karena passion dan game adalah salah satu cita-cita idealismenya, maka di tahun lalu Racmad Imron beserta kawan-kawannya membuat sebuah perusahaan game bernama PT Semantika Digital Indonesia atau Digital Happiness. Di awal berdirinya, Digital Happiness memproduksi game horror yang berjudul DreadOut-Experience Indonesia Horror Game.

“Untuk game B2C baru kami lakukan pada tahun lalu saat kita memutuskan untuk mencoba mendevelop Ip sendiri “DreadOut – Experience Indonesian Horror Game” yang rencananya baru akan rilis di Q1 2013. Sebelumnya kita menyebutnya bukan game, melainkan interaktif atau real time interaktif untuk pasar B2B,” katanya.

Dia juga menuturkan latarbelakang memilih game yang bertemakan horror tersebut. Menurutnya, horror merupakan bagian dari kultur yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu dia dan tim tak perlu meriset latarbelakang untuk game ini terlalu lama.

“Pertama kita memang suka genre horror, dan yang kedua; adalah merealisasi project idealisme kita yakni  ke inginan kita untuk membuat produk game yang bagus  (Game dengan cita rasa indonesia, namun tetap memberikan user experience yang global), namun dengan bujet yang tidak terlalu besar, akhirnya kita putuskan genre horror,  dikarenakan horror atau mistis merupakan kultur yang sangat dekat dengan kita, dan kita tidak perlu melakukan riset yang terlalu panjang untuk mengerjakannya, akan beda kasusnya apabila kita ingin mendevelop game dengan latar belakang kebangkitan sriwijaya misalnya,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat Indonesia cukup rindu dengan game buatan lokal, sehingga hal tersebut mendapatkan sambutan baik dari para gamer. Meskipun demikian, ia mengaku cukup kesulitan ketika segmentasi yang ditentukan berubah dari apa yang ditargetkan. 

“Sambutannya cukup baik mengenai segmentasinya sebenarnya kami cukup kesulitan dikarenakan pada awalnya memang ini adalah game horror remaja- dewasa, namun  saat kita demokan; selain remaja, anak-anak pun  juga antusias melihat dan mencoba memainkannya, yang  untuk selanjutnya memang kita akan batasi ratingnya dan akan kita beri peringatan konten untuk remaja dan tentunya akan kita kembalikan kepada kebijakan orang tua masing,” tuturnya.

Selain itu, game yang pernah diciptakan di antaranya Hallway raid, Free Fans Tribute game based on The Raid : Serbuan Maut Movie. “Meskipun mendapat respon yang cukup positif , tidak kami lanjutkan kembali dikarenakan  ada kaitannya dengan pemegang Hak Intelektual The Raid yang sudah dimiliki oleh PT Merantau Films dan SPC (Sony Pictures Classic),” ungkapnya.

Berbicara modal, katanya, kurang lebih sekitar Rp100 juta untuk membuat perusahaan game ini. Ketika ditanyakan inovasi mendatang, dia menuturkan bahwa dia bersama tim akan menjadikan Dread Series sebuah franchise game lokal dengan global experience. 

“Mimpi kita adalah menjadikan Dread series sebuah franchise game lokal dengan global experience dengan mencoba mengembangkannya ke dalam bentuk komik, merchandise, mobile version, dsb. Dreadout merupakan bagian dari Dread Series tsb; akan ada DreadKnight, DreadNight, DreadEnd, dan lain-lain,” tutupnya.