Dalam dunia kesehatan, selama ini gula dianggap sebagai musuh utama. Namun, para peneliti dari Universitas Tokyo of Science menemukan bahwa gula juga memiliki manfaat dalam bidang elektronik.

Baru-baru ini, para peneliti tengah mengembangkan gula sebagai kunci untuk memproduksi baterai isi ulang yang lebih terjangkau. Selama ini baterai isi ulang untuk gadget terbuat dari lithium-ion. Sayangnya, persediaan cadangan lithium dari di negara-negara seperti China dan Bolivia semakin menipis.

Salah satu teknologi baterai yang bisa berpotensi untuk menggantikan lithium ion adalah natrium ion. Natrium ion saat ini bisa diperoleh dari sukrosa yang tergandung pada gula. Seperti yang dilaporkan Gizmag, untuk memproduksi natrium ion bisa dengan memanaskan sukrosa pada suhu 1500 ° yang dikenal dengan proses pirolisis. Hasil pembakaran ini adalah serbuk karbon kertas yang memiliki kapasitas penyimpanan hingga 300 mAh atau 20% lebih tinggi dari kertas karbon konvensional.

Namun, kita masih harus bersabar untuk bisa membeli baterai dari gula ini. Para peneliti menyatakan diperlukan waktu setidaknya 5 tahun sampai baterai jenis ini bisa dipasarkan.