Isu global yang paling hangat dan gencar dewasa ini adalah peubahan iklim atau Global Change. Barangkali sudah banyak orang yang memahami makna dari istilah itu.  Namun ada juga sementara orang yang kurang tahu atau bahkan tidak mempedulikannya. Namun, marilah kita coba membahas isu Global Warming itu secara agak mendalam. Ada kesepakatan ilmiah yang sudah sangat jelas, bahwa Global Warming kini terjadi lebih cepat daripada yang pernah terjadi, dan manusia merasa bertanggung jawab. Global Warming disebabkan oleh terlepasnya gas-gas dari rumah kaca ke dalam atmosfir. Gas rumah kaca yang paling umum adalah karbon dioksida. Banyak aktivitas yang kita lakukan sehari-hari, misalnya menyalakan listrik, memasak makanan, atau memanaskan atau mendinginkan ruangan rumah kita, dengan mengandalkan pada pembakaran bahan-bahan bakar fosil, seperti minyak dan batu bara yang memancarkan karbon dioksida dan gas-gas lainnya ketika dibakar. Inilah yang menjadi masalah utama, karena Global Warming menstabilisasikan keseimbangan yang genting, yang memungkinkan kehidupan di planet ini. Sebagaimmana kita ketahu, hanya dengan beberapa derajat perubahan temperatur, maka akan terjadi perubahan di dunia ini secara menyeluruh, dan mengancam kehidupan jutaan manusia di dunia.

Sebagaimana dinyatakan oleh para ilmuwan , bahwa batas atas yang aman bagi karbon dioksida (CO2) dalam atmosfir kita adalah 350 PPM (Parts Per Million). Maka apabila emisi-emisi CO2 telah melampaui bilangan tersebut, manusia harus secepatnya berupaya  mengembalikan atau menurunkan kembali bilangan itu, sehingga tidak menimbulkan perubahan iklim yang lebih ekstrem lagi.

Dr. James Hensen yang pernah mengetuai NASA Institute for Space Studies di New York City, sangat terkenal dengan kesaksiannya di hadapan Komite-komite Kongres Amerika pada tahun 1980an, mengenai timbulnya kesadaran yang meluas terhadap isu Global Warming, maka CO2 seharusnya diturunkan dari yang sekarang 385 PPM  menjadi 350 PPM.

Begitu pula Dr. Vandana Shiva, sebagai filosof, pemikir dan aktivis India dalam agrikultur yang berorientasi pada keberlanjutan (sustainability) dalam ekosistem dan lingkungan hidup, menyatakan bahwa: “Saya sepenuhnya mendukung di belakang kampanye 350. Pergeseran dari agrikultur industrial menjadi ecological, maka sistem-sistem pangan lokal akan menjadi langkah tunggal yang paling besar untuk bergerak mencapai 350, dan mengamankan iklim, sambil secara simultan memecahkan masalah krisis pangan.”
Namun, apa yang terjadi kini adalah justru emisi-emisi gas rumah kaca yang berkontribusi bagi perubahan iklim telah semakin meningkat, bukan menurun. Salah satu sebab juga terkait dengan perdagangan carbon dan emisi-emisi sebagai tujuan utama Kyoto Protocol untuk Konvensi Iklim. Tentu saja kita tetap berharap,  semoga masih ada orang-orang bijak sebagai pengaman iklim dan penyelamat Bumi Ibu ini.