Para pemikir, pengamat dan aktivis lingkungan hidup, tentu berfokus pada bagaimana mengurangi pencemaran lingkungan yang di antaranya diakibatkan oleh kendaraan-kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, baik di kota-kota besar, kota-kota madya, kota-kota kecil, sampai di tingkat pedesaan, mungkin sulit untuk dibendung.

Salah satu Negara yang paling menonjol dalam mengatasi penggunaan kendaraan bermoyor adalah Denmark, dengan ibu kotanya Copenhagen. Keprihatinan pemerintah Denmark tampak dalam keterlibatannya untuk mendanai proyek-proyek yang berkaitan dengan sepeda. Semua komponen dalam masyarakat bertekad untuk melakukan transformasi di tingkat-tingkat perkotaan dengan menitikberatkan kultur, perencanaan, lalu lintas, dan komunikasi, dalam penggunaan sepeda. Mereka ingin menjadikan ruang-ruang urban dirasakan lebih hidup dan lebih nyaman. Beberapa generasi yang lalu, sepeda merupakan “feature” pada lanskap kota-kota di seluruh dunia. Dalam memposisikan sepeda, para pengambil kebijakan melakukan pendekatan kepada setiap pekerjaan dari perspektif manusiawi, misalnya segi pembuatan desain, antropologi, sosiologi dan akal sehat sebagai titik tolaknya.

Langkah-langkah Denmark rasanya perlu kita renungkan dengan baik-baik. Di sekitar tahun 1960an, kita masih terbayang pada Yogyakarta sebagai kota sepeda. Dan kini dalam menghadapi krisis lingkungan hidup, penggunaan energi sumber daya alam yang tidak berasal dari bahan bakar fossil, sangat mendesak untuk diaplikasikan secara mendasar dan holistik.

Jika kita memang berniat untuik mempromosikan dan mensosialisasikan sepeda, maka terutama yang dipikirkan adalah modifikasi perilaku, yang dapat ditangani dengan model trans-teoritikal. Secara tradisional, transportasi individual terkait dengan kondisi-kondisi tujuan (jarak, infrastruktur, cuaca), meskipun ternyata juga masih ada pengaruh dari faktor-faktor non-rasional dan emosional yang kuat terhadap pilihan yang dilakukan para konsumen transportasi. Dari situlah kita bisa menemukan kunci untuk melakukan pemasaran sepeda secara lebih efektif.

Sebagaimana foto sepeda kayu di atas yang sangat mempesonakan. Pencipta, pendesain, perakit sepeda kayu itu adalah Iran Mestas, dari Chino Hills, California. Dengan kecintaannya yang mendalam terhadap sepeda sejak ia masih kanak-kanak, maka dalam proses kehidupannya semakin tumbuh dan berkembang semangat, keinginan, motivasi, imajinasi, dan penekunan untuk menciptakan sepeda kayu dengan model dan fasilitas yang bervariasi. Mungkin secara tidak tersadari dia telah memberikan kontribusi untuk ikut serta menanggulangi pengurangan polusi lingkungan hidup.