Pernahkan anda membayangkan berapa banyak ampas kopi dan roti-roti basi yang dihasilkan kedai-kedai kopi setiap hari? Limbah-limbah sisa makanan ini biasanya dibuang begitu saja. Tapi baru-baru ini para peneliti dari University of Hongkong bersama Starbucks Coffee menjadikan limbah-limbah ini sebagai biofuel.

Starbucks Hongkong sendiri menghasilkan 4000 ton limbah setiap tahun. Dengan teknologi biorefinery para peneliti ini menemukan ide brilian ini saat pertemuan antara Carol SK Lin dan NGO The Climate Group.

Dengan teknologi biorefinery makanan, proses ini akan menghasilkan menghasilkan asam suksinat. Tak hanya menjadi biofuel, bahan makanan ini juga akan didaur ulang menjadi plastic.

Teknologi biorefineries makanan tidak hanya membantu menjaga sisa makanan dari tempat pembuangan sampah dan insinerator, tetapi karena produk akhir dapat digunakan sebagai alternatif minyak bumi dalam produk lain, jenis proses mungkin merupakan link penting dalam keberlanjutan dalam sistem pangan.

Saat ini, pilot project sedang dikembangkan di Jerman agar bisa menjadi skala komersil.