Teknologi bersih seperti sel surya dan baterai lithium-ion memungkinkan kita untuk menggunakan energi terbarukan dan menggunakan energi lebih efisien. Akan tetapi sering kali bahan-bahan tersebut adalah bahan langka, mahal dan sulit untuk didaur ulang.

Sebuah kemitraan antara Rice University dan Université catholique de Louvain di Belgia berfokus pada  usaha daur ulang. Para peneliti telah menemukan cara untuk menggunakan limbah silikon yang biasanya dibuang, untuk membuat baterai fleksibel lithium-ion yang benar-benar bisa menyimpan lebih banyak energy.

Rice University melaporkan, para peneliti menciptakan hutan kawat nano tapi sulit didaur ulang silikon. Silicon menyerap lithium 10 kali lebih banyak daripada karbon yang biasa digunakan dalam baterai LI.

Dalam laporanya dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science, teknik untuk membuat kawat nano terbungkus listrik dari tembaga dan ion elektrolit polimer menjadi anoda. Materi yang memberikan nanowires ruang untuk tumbuh dan menyusut sesuai kebutuhan, yang memperpanjang kegunaan mereka. Elektrolit juga berfungsi sebagai spacer efisien antara anoda dan katoda.

Baterai yang dihasilkan dari daur ulang ini menggunakan array silikon nanowire yang mampumenghasilkan 150 jam milliamp per gram. Bahkan setelah 50 kali siklus pengisian ulang, baterai menunjukkan sedikit tanda-tanda pembusukan. Para peneliti sekarang bekerja pada peningkatan angka-angka dan pengujian konfigurasi baterai yang berbeda.